Corat-coret

Perspektif Bodoh II – Nosstress

Jumat 22 Agustus 2014 adalah jumat yang saya tunggu sejak awal tahun lalu. Malam itu, salah satu band indie Bali meresmikan album keduanya. Nosstress merilis karya terbaru, Perspektif Bodoh II. Sambungan dari album satu yang dinamakan sama, mereka masih membahas dunia dari sudut yg sederhana.

Nosstress
Semisal sahabat belum tahu, Nosstress adalah salah satu band indie lokal Bali, yang dari 2008 hingga saat ini sangat hits dengan segala  kesederhanaannya. Nosstress adalah Man Angga (vokal & gitar), Kupit (vokal & gitar) serta Cok (vokal, cajoon, harmonika, pianika). Ya hanya tiga orang itu, tanpa bentotan bass, mengusung folk akustik mereka menyuarakan keresahan yang ada di sekitar. Bahasa yang mereka gunakan simpel namun juga mendalam di saat bersamaan. Ini yang saya suka dari mereka secara pribadi. Kata seorang teman, mereka adalah versi sederhana dan frontal dari Dialog Dini Hari.

Sedikit flashback. Saya ingat pertama diceritakan oleh teman tentang “trio ajaib” ini. Mereka secara penampilan memang sangat sederhana. Haha. Bahkan konon ada saat mereka menggunakan sendal jepit ke atas panggung, saat band lain “nampil” dengan segala pakaian necis ala selebriti. Tapi musik yang mereka bawakan tidak bisa begitu saja disepelekan. Sahabat yang mahir mungkin bilang chord yang mereka mainkan tak begitu rumit. Lirik adalah kekuatan mereka. Isu sosial yang seringkali terlewat mereka bahas dengan “ajaib”. Satu yang jadi favorit (sebenarnya semua favorit) adalah track “Tunda”.

… satu hal yang terburuk dalam hidupku adalah ketika aku tak langsung mengerjakan masalah yang seharusnya kukerjakan, sering aku lakukan….

Baru kelar satu bait saya langsung kesindir.

Nosstress dan skripsi
Skripsi saya, selayaknya skripsi yang lain, penuh drama dan konflik, macam film kolosal. Dan selalu ada soundtrack di setiap film kolosal. Salah satu yang klop ya Nosstress. Coba dengar track “Bersama Kita”. Sahabat akan langsung tahu kenapa. Lagu apik mereka dan beberapa musisi indie lainnya (Emoni, Pygmy Marmoset, The Kantin, Banda Neira, Dialog Dini Hari) menjadi penabah dan penyambung semangat saya saat jatuh di pertengahan dulu. Skripsi saya termasuk lambat untuk kelasan PTS. Pas 3 semester saya kerjakan, atau saya bayar SKS tepatnya, karena dikerjakannya menurut mood. Kecebur di suara-suara independen ini serasa anugerah. Musik selalu jadi teman saya saat duduk depan laptop. Dan tema yang teman-teman indie usung mampu memberi semangat lebih untuk bertahan sedikit lagi, sedikit lagi, hingga akhirnya Mei lalu…

IMG_2783_
IMG_20140413_215643-2

Perspetif Bodoh II
Kembali ke topik, acara “pesta” ini bertempat di Taman Baca Kesiman, kawasan Jl. Sedap Malam. Tempatnya, jujur, agak susah dicari kalau memang jarang lewat sana. Istilah Balinya “tongosne di bet leke-leke“. Agak tersembunyi dan kalau tidak jeli akan mudah terlewat karena palang namanya agak kecil, tidak begitu menonjol. Tapi untuk atmosfir, masuk jajaran kelas satu untuk saya yang hobi bengong berjam-jam. Asri. Sepi. Bayangkan sahabat sedang baca buku di atas rumput jepang terawat, tidak teduh, tapi sejuk, ada perpustakaan dan kantin kecil, beberapa bangku taman nyeleneh, dan wastafel dari toilet jongkok. Kebayang?

Tiket soldout sudah dari jauh hari. Karena sudah diwanti-wanti sama Bli Man, hari pertama penjualan saya langsung pesan. Teman-teman yang lain yang baru “ngeh” dan pesan di hari ketiga nyesel. Wkwkwk. Tiket konon dibuat terbatas 400 buah, untuk menjaga keintiman. Dan berfungsi sebagai alat bukti bayar DP (voucher) jika ditukar dengan CD album. Aneh memang trio ajaib ini, kalau dipikir sebenarnya konsernya gratis. Lha kita cuman beli album lebih awal sudah bisa langsung nonton eksklusif.

Sampai disana sudah ramai. Saya tepat waktu jam 7 malam. Wajah-wajah yang terlihat ya memang familiar. Itu-itu saja. Hahaha. Ada beberapa musisi lokal dan penggiat seni yang datang. Panggung sederhana, hanya ditambah lighting yang agak mencolok di latar. Malam itu kami duduk lesehan di atas rumput, di udara malam. Untungnya tidak hujan dan angin juga sedang bersahabat. Semesta sepertinya ikut mengamini sukses acara malam itu. Acara diawali oleh Bli Made Mawut (maaf, tidak ada link socmednya), musisi Blues yang sering manggung bareng dengan Nosstress, yang juga tak kalah ajaib.

Lanjut ke yang punya hajatan. Seperti biasa, selain nonton konser kita juga dapat hiburan gratis dari celotehan Bli Man di sela perform. Semua lagu dibawakan bersih, seperti biasa. Ada lagu “Minor Bahagia (Sahabat Samudera)”,  “Tanam Saja” dan “Ini Judulnya Belakangan” yang sudah lebih dulu diperkenalkan. Selain itu ada 7 track baru.Yang paling berkesan adalah “Lagu Semut”. Ada efek live suara kerupuk, tapi yang dibahas di lagu adalah remah roti (ok, gak penting). Lalu ada “Manipulasi Hari”, “Apa Susahnya”, “Pegang Tanganku”, “Semoga Hanya Lupa”, “Lagu Untukmu”, dan “Perspektif Bodoh”. Kebanyakan membahas isu reklamasi yang sedang panas-panasnya dari 2 tahun lalu. Mereka memang termasuk sangat vokal dalam perlawanan. Untuk kualitas, saya sedikit terharu. Sangat lebih baik dari album pertama. Saya bukan ahli musik, jadi mungkin lebih baik jika sahabat beli albumnya dan komentari sendiri. Sedikit kutipan favorit dari “Pegang Tanganku” (spoiler alert) :

.. Indah itu tak selalu ada, senang itu sementara. Jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu …

Like I said, dalem…

Khusus untuk “Tanam Saja”, saya dapat info dari teman umur lagunya (dipopulerkan) hampir sama dengan Perspektif Bodoh pertama. Tapi entah kenapa tidak masuk album. Memang saya sudah dengar dari awal kepincut dengan tiga orang ini. Tapi entahlah, yang jelas sekarang sudah ada versi apiknya di album kedua.

Penampilan malam itu diakhiri dengan lagu wajib “Bersama Kita”, video perjalanan mereka manggung ke Jerman (iya, Jerman) dan lanjut ke sesi tanda tangan. Ada kesempatan foto hanya dengan Bli Man, sayangnya (sebenernya ngincer Bli Kupit) XD . Tak apa, malam itu sendiri sudah menjadi anugerah (setelah sakit hati beberapa waktu lalu, ingin ikut Emoni launching album tapi kepentok parum di banjar) (lah jadi curhat) (oke, cukup).

IMG_98480120900178_1

Tanda tangan kumplit

Tanda tangan kumplit

Akan selalu menyenangkan menikmati saat bengong tiap kali nonton kalian di atas panggung.
Terimakasih Nosstress.

Dan sebagai penutup cerita kali ini, saya embed 1 lagu dari album baru dan juga album dari Made Mawut. Saya doakan semoga kepincut juga 🙂

Foto diambil oleh Bli Ésha Satrya dan Bli Gung WS(foto pertama), diambil dari Instagram dan Halaman Facebook Nosstress. Terimakasih sudah diijinkan memakai gambarnya 🙂

Iklan
Standar
Corat-coret, Renungan

Dan Setelah Dua Tahun…

wassup

 

Pos Terakhir di blog ini 2 tahun lalu. Haha. Kelewatan bener. Saya harus salahkan Facebook, Twitter dan sebangsanya dengan microbloggingnya yang menyesatkan. Posting singkat, instan, tanpa perlu repot pikir ide utama, kalimat penunjang dan tata krama penulisan layaknya disini. Kalau diingat, jaman dulu satu post bisa saya buat 1-2 hari, baca berulang-ulang, perbaiki sana-sini, sampai dirasa ‘layak’ dan tidak bikin muntah, baru akhirnya di-publish. Saya pikir social media modern saat ini juga turut memberi andil menurunnya keinginan baca tulisan panjang akhir-akhir ini. Setidaknya di saya :p Jadi terbiasa buat post dan menjelaskan sisanya di komentar, itupun jika ada yang merespon.

Terlepas dari itu, banyak hal terjadi 2 tahun ini. Saya pikir 2 tahun akan jadi singkat. Salah besar. Baca lebih lanjut

Standar