Jurnal Sepeda

Tanjakan Ulala Tegalalang

Jadi hari itu Sabtu, 18 Juni 2016, agak  beda dari ride yang biasanya hari Minggu. Kita sepakat untuk ride jauh kali ini hari Sabtu, karena besok harinya ada undangan fun ride di Puspem Badung. Tapi meski Sabtu, kali ini Pak Je bela-belain ijin masuk siang. Segitu pengennya sepedaan ke tujuan kali ini 🙂

Seminggu Tertunda

Sekali lagi kita puasa ride panjang minggu lalu. Ya, gak semua sebenarnya. Ade, Ivan dan Esa bareng beberapa teman-teman dari JCC sudah duluan ride ke Bali Selatan, hari Sabtu minggu lalu. Mereka ke Pantai Melasti. Rencana awalnya adalah hari Sabtu kita ride ke Melasti, lanjut hari Minggunya untuk dosis ride panjang mingguan, kita melepas mata penat ke Jatiluwih. Dua hari ride dengan jarak lumayan jauh kedengaran seperti ide gila buat saya. Ditambah rasa bersalah karena sudah bolos latihan lari seminggu ini. Saya lebih memilih absen hari Sabtu dan bayar hutang keliling di Puputan. Tapi sorenya ada perubahan rencana 😁 The Route Maker, Ivan, agak kecapean pulang dari Pantai Melasti. Jadi kita putuskan untuk keselamatan bersama, minggu itu ride panjang kita tunda.

(kan gak lucu yang tahu rute malah tepar di jalan)

Singkat cerita seminggu kemudian di KFC Nangka. Pagi buta jam 6, Ivan, Esa, Pak Je dan Ade sudah ngobrol santai di emperan depan saat saya sampai. Angga dan Tio menyusul beberapa menit setelahnya. Sebenarnya ramalan cuaca hari itu hujan, di sebagian besar situs. Hanya ketemu satu yang baca cerah, dan untungnya itu yang tepat. Kali ini kita tidak lewat Batubulan seperti ke Kintamani lalu, tapi ke utara di Seroja ke arah Cekomaria dan Angantaka. Rute yang lebih sepi, lebih enak menurut saya pribadi. Pagi itu jalan masih lumayan lengang, ditambah wilayah pedesaan jadi udara masih segar. Berbeda jauh dari Batubulan, jalan raya besar yang sudah ramai bahkan di pagi buta.

(Oh iya, Ade bawa action-cam. Nanti videonya saya sisipkan di sini.)

Yang sama dan disayangkan adalah ujung dari kedua rute tadi, sama-sama berakhir di tanjakan Kedewatan Maha Agung. Tanjakan tapi ‘bukan tanjakan’. Saat kita melihat ke depan jalannya terlihat datar-datar saja, tapi anehnya makin lama pedal makin berat, sampai gear belakang habis tanpa sadar ðŸ˜† Saya akhirnya menyerah di tengah jalan setelah hampir berhenti karena ada ibu-ibu sein kiri dengan sangat hati-hati, jadi terpaksa pelan sedikit. Benar ternyata, sekali tertinggal di group ride, akan susah mengejar yang di depan lagi. Tio dengan luar biasa bisa kembali mengekor yang di depan, saya dan Ade kehabisan napas di belakang. Haha. Ade semangatnya entah kenapa kurang hari ini.

Lucunya, pas saya ngobrol santai dengan Ade (kita udah nyerah nguber yang di depan), ada Esa di pinggir jalan rebahan bareng sepedanya. Sayang gak difoto, semoga ada di video gak ada juga di video. Footage-nya hilang secara misterius (Sa, you’re lucky this time) ðŸ˜‚ Hear-rate-nya terlalu tinggi.

(Iya harus nya gak boleh dibilang lucu, maaf Sa! 😆)

First stop, Banjar Kedewatan, Ubud.

2016-06-18-05.03.42-1.jpg.jpg

img-20160618-wa0003.jpg

Jersey baru, alhamdulillah!

Sayangnya Ade (beserta Yi Cam) harus putar balik di sini, karena beberapa jam lagi ada kerja. Sayang, padahal setelah ini adalah bagian paling seru. Harusnya kameranya dititip. Tapi lumayan, teaser sebelum Tour keliling Bali nanti.

Dari Banjar Kedewatan kita lanjut turun ke timur ke arah Ubud, tapi belum beberapa ratus meter kita belok ke Utara. Kita masuk ke jalan kecil di areal pemukiman Banjar Taro. Yang menarik ternyata jalan itu berujung di Pura Gunung Raung, perbatasan antara Banjar Taro Kaja & Kelod. Kita istirahat lagi di satu warung di areal wantilan Pura.

image

image

image

Tempatnya seru. Suasana nya mengingatkan saya pada keadaan di rumah semasa kecil dulu. Sepi, damai. Keluar dari areal Pura ke Utara, jalannya masih suasana pemukiman. Baru setelah beberapa ratus kemudian akhirnya kembali ke jalan utama.

Skip-skip, semuanya berjalan biasa sampai akhirnya — saya kaget ketemu turunan tajam bareng tanjakan, turunan dan tanjakan lagi. Ada dua set turunan dan tanjakan yang kita temui. Yang pertama ini agak mengerikan karena Ya-Tuhan-Ini-Turunannya-Curam-Pake-Banget. Saya harus mengulang-ulang mantra dalam hati “tetap di sadel Rik, tetap di sadel!” saking ngerinya membayangkan bagaimana kalau saya terjungkal ke depan dengan kepala pertama mencium pertiwi. Turunan tadi diikuti tanjakan yang hampir seketika, jadi climbing cobaan pertama ini lewat begitu saja. Set ini terhitung masih manusiawi karena karena meski turunannya (sangat) curam, jalannya masih mulus. Kejutan sebenarnya masih menanti di depan 😀

Beberapa ratus meter setelah surprise tadi kembali saya dihadapkan ke turunan, yang saya tahu, kalau di lokasi seperti ini (brembeng bet-ngandang) hampir pasti diikuti oleh tanjakan. Yang saya tidak tahu, adalah tanjakannya. Tanjakannya, curam berbelok dengan tekstur jalan yang kata orang Bali “maukir”.

2016-06-18-05.03.43-1.jpg.jpg

Tio, yang sebegitu semangatnya mesti nuntun

2016-06-26-05.06.09-2.jpg.jpg

mungkin tidak kentara, tapi di bagian highlight di atas itu jalannya rusak. parah.

Saya dan Tio memang tertinggal di belakang. Tio sempat gagal pindah gear sebelum tanjakan maut tadi, dan saya yang kebetulan ngekor di belakangnya, kaget, dan akhirnya turun juga. Haha. Ya sudah, paha saya memang sudah menjerit sedari tadi, dan tanjakan ini sepertinya tidak memungkinkan untuk dilibas tanpa memikirkan kemana harus maju 1 meter berikutnya.

Yang menarik, ternyata (katanya) Ivan sempat jatuh di jalan rusak tadi. Ivan, yang biasanya ngilang di tanjakan, jatuh, tapi jatuh pinter katanya (jatuh pas pakai cleat itu istilahnya “jatuh bego”, karena Ivan biasanya jago, jadi kita putuskan ini “jatuh pinter”). Sayang saya tidak berkesempatan jadi saksi kejadian ajaib ini dengan mata kepala sendiri.

Terasering Tegalalang, at last!

Beberapa menit kemudian, semua cobaan tadi tiba-tiba terlupa, karena Terasering Tegalalang ada di depan mata!

Yang juga jadi pertanda kalau sekarang saatnya untuk makan! Setelah beberapa kali ambil gambar, kami lanjut ke arah selatan menuju Ubud. Ada satu spot makan favorit kami tiap kali singgah di Ubud saat sepedaan. Ayam betutu paling nikmat yang pernah saya temui (mungkin karena ke sini selalu setelah capek keliling. bisa jadi).

Salah Jalan

Lucunya, saya tidak tahu kalau Tio berencana langsung pulang. Saya masih mengekor Tio di belakang meskipun jalan sudah tinggal turunan. Beberapa ratus meter dari spot foto tadi kami terpisah dari rombongan. Sampai akhirnya di perempatan patung besar di Ubud (gak tahu namanya) saya tanya ke Tio untuk memastikan, “Kanan kan ya?”. Tio jawab mantap “Gak, lurus kok!”. Agak curiga, tapi saya berpikir mungkin mau lewat jalan belakang. Saya salah. Di belokan di ujung jalan, Tio berhenti dan bilang “Kalau mau makan tadi belok sih, aku mau pulang. Mau makan apa pulang?”. Jederrrrr! Mantap! Ya sudah pasrah, saya senyum tipis dan bilang mau makan, pamit, dan kami pisah jalan. Yak! Balik lagi ke Utara. Tanjakan. Saya hanya ketawa dalam hati.

Sampai akhirnya ketemu Esa di pinggir jalan sebelum masuk warung. Warung Ayam Betutu Pak Sanur. Esa tau saya tidak tahu jalan masuknya yang mana. Haha. Yah, meskipun dapat 1 km tambahan, akhirnya makan!

2016-06-24-11.54.45-1.jpg.jpg

2016-06-24-11.54.40-1.jpg.jpg

“Nyamm”

Perut kenyang, hati senang, semua riang, kami balik pulang. Tidak ada cerita menarik di jalan pulang, hanya panas di jalan yang memang seperti biasa menyambut begitu ketemu Denpasar kembali. Tapi, it was hell-a-lot of fun!

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s