Jurnal Sepeda

Epic Journey: DNS Tour Keliling Bali

Etape 1

Selama libur panjang Lebaran lalu (7-8 Juli 2016), saya bersama teman-teman DNS melakukan sebuah perjalanan yang luar biasa. Yang belakangan lebih seperti perjalanan bertahan hidup di jalan selama dua hari. Pada dasarnya saya sendiri pun awalnya tidak yakin apakah saya sanggup. Tapi ada pepatah,Β You’ll never know till you tried!

Dari Adi dan Ivan

Ide gila ini pertama kali tertanam di kepala saya karena ditularkan oleh sepuh kami, Adi. Satu malam di awal tahun 2016, saya mendapat undangan ke bazaar di Banjarnya. Saat itu kami belum begitu banyak bertemu. Hanya sesekali di event musik dan ketika saya yang minta bantuan untuk beli kupon bazaar saya. Perlu diketahui juga, Adi ini adalah orang yang menjerumuskan saya ke dunia sepeda.Yang meyakinkan.

Jadi malam itu kami ngobrol dan sampai di satu topik, Adi punya keinginan suatu saat membuat perjalanan keliling pulau dia atas sepeda, dan singgah di Singaraja untuk bermalam. Kebetulan salah satu adiknya sedang belajar di sana, jadi masalah akomodasi bisa dipermudah. Kami tak bahas detail, tapi memang saya langsung merasa tertantang.

Ide itu mengendap begitu saja di memori saya karena memang saya rasa perlu persiapan matang di mental dan kemampuan, sedangkan pengalaman saya bersepeda di atas 50 Km saat itu masih bisa dihitung satu tangan. “Masih jauh lah…”

Semua terlewat, dan tanpa terasa sudah sekitar 4 bulan saya nimbrung bareng geng sepeda penuh sahaja ini.

Hari itu, satu dari sekian chat log di grup WhatsApp menarik perhatian saya. Ivan share sebuah link video. Dan video itu adalah sebuah video perjalanan dari tiga orang cyclist di Jepang yang melakukan perjalanan dari ujung selatan ke pulau paling utara, semua di atas sepeda, selama satu bulan lebih. Gila! Tapi terlihat menyenangkan. Saya langsung ingat dengan ide yang Adi lontarkan beberapa bulan lalu. Entah siapa yang mengungkit lagi ide itu di chat, saya lupa. Tapi yang pasti dari sanalah cerita ini berawal.

Off we go!

Singkat cerita sekitar dua bulan kemudian, inilah kami. DNS Full Team siap berangkat keliling Bali.

2016-07-10-06.57.57-1.jpg.jpg

Sayangnya, bukan disponsori KFC – KiKa: Ivan, Ade, Jaya, Esa, saya, Adi, Azi

Jadi rencananya adalah kami akan susuri pesisir timur Bali terlebih dahulu. Mulai dari Denpasar Ke Gianyar – Karangasem – Klungkung, kemudian Buleleng di hari pertama, untuk kemudian lanjut ke Jembrana – Tabanan dan akhirnya kembali ke Badung di hari kedua. Jadwal kami di jalan padat, kami tahu. Kami akan berada di atas aspal seharian penuh untuk dua hari ke depan.

Pagi itu, semua berjalan seperti biasanya di titik kumpul. Hanya saja kali ini partisipannya lebih banyak. DNS Full Team. Termasuk Adi yang paling jarang ikut, kali ini ada πŸ™‚ Dan rute kali ini lebih panjang dari biasanya.

Semua siap. Kami mulai berangkat ke arah timur menuju Bypass Ida Bagus Mantra. Lajur besar penuh angin dengan pemandangan luar biasa, asal tidak kepanasan pas kesiangan. Semua masih penuh dengan energi dan semangat, jadi speed awal masih mantap. Lajur ini juga sifatnya rolling, rentetan turunan dengan sedikit tanjakan. Kebanyakan jalan datar. Tidak ada masalah.

2016-07-10-06.57.52-1.jpg.jpg

We’re not even really started yet, but the view is already amazing

2016-07-09-11.48.51-1.jpg.jpg

Berhenti sebentar…

Dan tanpa terasa kami sampai di Pura Goa Lawah. Pemberhentian pertama kami untuk menarik napas sebentar, mohon doa restu dan bimbingan selama perjalanan sambil foto bersama.

2016-07-10-10.47.16-1.jpg.jpg

First stop!

Perjalanan sebenarnya baru akan dimulai setelah ini, karena trek aman sudah berakhir. Kami akan masuk lajur pedesaan yang lebih kecil.

Flat Tire Pertama: Ajik

Jadi rencana berikutnya setelah Goa Lawah adalah cebar-cebur di Tirta Ujung. Ade yang paling semangat. Entah kenapa dari pertama diajak ke Jatiluwih untuk mandi di sungai, ide main air selepas sepedaan jadi nomer satu. Tapi dalam perjalanan ke sana, ada insiden kecil. Kecil tapi double. Ajik (Azi) flat-tire karena tanpa sengaja menghantam lubang jalan. Sebenarnya insiden kecil. Tapi double karena yang flat depan dan belakang, sekaligus πŸ˜€

(flat tire: ban kempes)

Ajik pakai ban kecil, mungkin karena itu jadi lebih rentan flat dibanding ban yang lebih besar. Gak masalah. Semua bantu ganti dan tidak sampai 15 menit kemudian kami sudah jalan kembali. Off to tempat mandi!

Tapi sebentar, beberapa kilometer sebelum tempat tujuan, Adi kram kaki!

bentar dulu bro

DNS dan Indomaret

Jadi selama dua hari ini, setiap kami penuh peluh dan dahaga, lelah dan panas, Indomaret selalu ada sepanjang perjalanan. Kami tidak disponsori, diendorse atau apapaun. Tapi entah kenapa di setiap kota yang kami singgahi, bahkan di desa yang agak terpencil sekalipun, ada Indomaret. Indomaret adalah penyelamat. Selain untuk bekal dan isi ulang air, juga karena AC-nya.

Kami berhenti di Indomaret pertama di Karangasem, di kawasan Taman Ujung.

Nyesel, harusnya buat kartu member dulu sebelum perjalanan.

Tirta Ujung

Tempatnya agak masuk ke areal pemukiman, jadi tidak akan ketemu langsung di jalan besar. Jadi untuk mencapainya kita harus masuk ke areal sawah, kemudian menenteng sepeda kami turun ke areal kolam.

Tirta Ujung ini seperti semacam bendungan sungai. Airnya jernih, hijau karena lumut sih, tapi jernih. Sebenarnya senang sekali dengan ide setelah panas seharian di atas sepeda, kami akhirnya dapat berendam. Masalahnya adalah, melepas perlengkapan yang sedang dipakai :v. Helm, jersey, leg warmer, sepatu, headset, tas, kemudian mengamankan kamera. Barulah akhirnya bisa turun.

2016-07-25-12.11.16-1.jpg.jpg

2016-07-25-12.11.14-1.jpg.jpg

Lengkapnya bisa dilihat di video nanti πŸ™‚

Kami agak ngaret di sini, saking keenakan berendam. Haha. Pada akhirnya fatal nih.

Trita Gangga

Sebenarnya saya agak bingung dengan semua nama ini. Tirta Ujung itu tempatnya dekat dengan Taman Ujung yang terkenal itu. Kita cuman berendam saja di sana. Makan siangnya nanti di Tirta Gangga. Tirta – Taman – Ujung – Gangga. Kalau saya sendiri mungkin sudah linglung di jalan.

Tirta Gangga letaknya lumayan jauh dari Tirta Ujung. Lupa berapa, tapi kalau tidak salah di atas sepuluh kilometer (mohon dikoreksi). Treknya menanjak, disertai macet, karena saat itu ada dewasa nganten, hari baik untuk pernikahan. Dalam perjalanan kami dihadang antrian mobil panjang karena di depan ada Bus parkir di pinggir jalan, jalan desa kecil.

abang lelah, dek…

Katanya untuk hari pertama, ini adalah tanjakan maut satu-satunya. Gak maut-maut amat, karena macet, jadi kita terpaksa berhenti di beberapa titik. Pada dasarnya rute pesisir Bali ini tidak terlalu ekstrim secara medan. Yang ekstrim adalah jaraknya. Terlebih hanya ditempuh 2 hari. Itu adalah sekitar 350 kilometer dibagi dua hari.

Oh iya, Adi mulai tertinggal di rute ini, dan seterusnya sampai keesokan harinya. Maaf Bli, haha.

Akhirnya, makan!

Nasi campur paling enak sedunia, karena diawali tanjakan

Flat Tire Kedua: Esa

Setelah makan dan menanjak sedikit, kami ketemu viewpoint lagi. Pemandangannya mengarah ke timur ke Gunung Lempuyang / Seraya. And you won’t want to miss this one.

Yang tidak kami sadari adalah, selama asik mengambil foto, di depan, Esa sedang kesusahan karena flat-tire. Haha. Tidak hanya ban dalam, ban luarnya ternyata koyak. Saya lupa tanya kenapa.

Ini lebih meyakinkan saya kalau selain faktor keberuntungan, untuk Bali Timur sebaiknya pakai ban besar dengan tekstur. Ban saya kebtulan dari awal 26C. Bongsor. Tapi badak, padahal saya selalu gak ngeh dengan lubang di jalan. Entah berapa kali saya masuk lubang, tapi syukur masih selamat sampai rumah. Keenakan lihat sekitar :v

Esa, ganti sendiri. Kita, nonton.

Hari sudah mulai sore ketika kami sampai di jarak 45 kilometer menuju Singaraja. Kami berhenti sebentar di dua tempat, Indomaret dan emperan toko. Adi masih belum ada tanda di belakang. Bablas sudah. Rencana kami untuk jalan-jalan di sekitaran hotel dan Pantai Lovina di malam hari sudah pasti tak bisa jalan.

2016-07-25-12.11.15-1.jpg.jpg

masih 45km lagi Pak!

Jam sudah menunjukkan pukul 17:00, dan 45 kilometer bukan jarak yang mudah. Terlebih kami sudah bersepda seharian. But we don’t go this far to whine about everything! Kami harus lanjut sampai Singaraja! Setidaknya untuk istirahat lebih cepat agar besok punya tenaga lebih.

Pantai Yeh Sanih

Sebenarnya saya (mungkin teman-teman juga) tak ingin menunda lebih jauh perjalanan ini bahkan dengan istirahat. Hari juga mulai gelap. Waktu ekstra yang kami habiskan di Tirta Ujung dan Tirta Gangga kelihatan akibatnya. Gambaran awal adalah kita sampai di hotel paling lambat jam 7 malam. Tapi ini sudah jam 6, dan kami masih berjuang untuk sampai di Singaraja. Sial.

Untungnya teman-teman masih punya akal sehat di depan. Saya dalam hati hanya terpikir kasur hotel semenjak tadi, akhirnya ikut menepi sebentar di gubuk tepi pantai. Ternyata Pantai Air Sanih (atau Yeh Sanih).

Duduk sebentar dan saya tersadar, ini sudah sore dan kami belum makan berat semenjak siang tadi. Hampir setengah hari kami bertahan di jalan hanya dengan ganjelan yang kami stok dari Indomaret terakhir tadi. Oke, we need to take it slow then. Apa yang lebih buruk dari sampai di hotel terlalu malam? Sampai di hotel terlalu malam tanpa tenaga sama sekali. Untungnya, Ade masih punya stok cokelat untuk dibagi-bagi! Makasi Ade! Atau, Makasi Ayuk? :p

Pantai Air Sanih sendiri sebenarnya luar biasa pemandangannya. Kami sampai tepat pada saat sunset. Sayangnya, keadaan kami mengenaskan, jadi suasana megahnya tidak begitu terasa. Haha. Lain kali kalau ke Bali Utara, akan saya sempatkan mampir di sini.

Sprinting With All Of Our Might to Singaraja

Berhenti sejenak memberi kami tenaga ekstra untuk sedikit kebut menuju Singaraja. Tolong jangan ditiru. Kami juga tak akan nekat 30 km/jam jika bukan karena keadaan. Saat itu sudah malam, penerangan jalan tidak terlalu bagus (bisa dibilang hampir tak ada lampu jalan). Kami hanya mengandalkan lampu sepeda yang tak seberapa terangnya, berusaha tetap dalam rombongan agar tidak tertinggal.

Di titik ini, saya sama sekali tak berniat menyentuh handphone atau kamera. Jadi maaf, tak ada foto yang bisa saya pakai.

Pikiran saya sekarang ada di Adi. Dia tertinggal semenjak Indomaret terakhir, dan hari sudah malam. Bersepeda malam hari dengan kondisi seperti ini sudah terdengar mengerikan bagi saya. Adi, di suatu tempat di belakang, menjalaninya sendiri.

Hati saya sedikit meleleh ketika di depan terlihat gapura, yang tiba-tiba terlihat begitu indah. Gerbang masuk Singaraja. Ya Tuhan, akhirnya! Saya tertawa, refleks. Kita sampai Singaraja, sampai Kota Singaraja! Ini artinya hotel hanya sekitar setengah jam perjalanan lagi. Kalau tidak sedang mengayuh, mungkin saya bakal loncat kegirangan.

Beberapa kilometer kemudian kami singgah sebentar, kembali di Indomaret πŸ™‚ (Indomaret, jika kebetulan baca ini, kami siap di-endorse). Saya berharap ini adalah isi ulang terakhir sebelum kami mencapai hotel, atau paling tidak tempat makan. Dan doa saya terkabul. Tempat pemberhentian berikutnya adalah KFC. Satu-satunya KFC di Bali Utara, katanya.

Hal pertama yang keluar dari mulut saya:

Ini beneran KFC singaraja kan?

Tumben saya segirang ini melihat wajah Colonel Sanders. Kami, tujuh orang dari Denpasar berangkat dari KFC jauh-jauh ke Singaraja untuk makan di KFC lagi. Haha. Alasannya, kami pikir saat itu masih musim libur lebaran. Rumah makan bakal kebanyakan tutup. Dan hari sudah kelewat malam. Ada pilihan lain?

2016-07-25-12.11.16-2.jpg.jpg

Adi belum juga sampai. Saya mulai khawatir, dan tidak enak hati sebenarnya.

Hotel Putri Sari

Akhirnya kami putuskan untuk bungkus seporsi ayam dan nasi besar. Adi akan menyusul langsung ke Hotel. Kami lanjutkan perjalanan dengan perut sudah terisi, sedikit lagi menuju peristirahatan. Aah. Setengah dari beban hari ini hilang rasanya. Saya sudah tak tahan ingin mandi dan melepas semua atribut yang terpakai sekarang. Dan tidur.

Kami sampai hotel jam 9 malam. Adi menysul tak lama kemudian (tak sampai 15 menit rasanya). Jadi jika ditambah dengan waktu makan tadi, Adi tertinggal sekitar 45 menit. Jauh. Banget. Benar-benar salut dengan sepuh kami ini. Modalnya hanya yakin, dan terus pedal. “Meski pelan, pasti bakal sampai!”, katanya.

Sedikit lega, karena kami semua sudah sampai dengan selamat, meskipun agak sedikit mengenaskan. Total sekitar 7 jam lebih kami di atas sepeda, seharian ini. Rekor buat saya, dan badan saya rasanya mengamini. Rasanya begitu capek. Tapi rasa lega karena sudah sampai sepertinya sedikit mengurangi beban.Saya sempatkan keluar sebentar bareng Ade untuk mencari sedikit cemilan. Tebak, di mana? INDOMARET!

Secara ajaib, ada Indomaret 10 meter dari hotel tempat kami menginap. Apakah ini yang namanya jodoh, Tuhan?

 

Jadi hari itu berakhir baik, meski sedikit berantakan, tapi kami sampai! Agaknya sudah terlalu panjang. Hari kedua akan dilanjutkan di post berikutnya πŸ˜€

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s