Jurnal Sepeda

Apa Itu Capek: DNS Tour Keliling Bali – 2

Etape 2

Jadi ada beberapa hal menarik yang terjadi malam itu hingga pagi. Pertama, kasur empuk itu bukan jaminan tidur nyenyak. Ya, beberapa menit pertama memang terasa begitu nyaman rebahan setelah seharian bungkuk di atas sepeda. Tapi begitu diniatkan untuk tidur, saya putus asa. Karena memang saya tak terbiasa menginap, kemudian kaki saya yang mulai panas, protes minta dimanja setelah dipakai seharian. Arrrgh!

Kedua, kecapaian juga bukan jaminan tidur nyenyak. Saya malah uyang. Tidur hanya bisa tidur ayam. Lewat sebentar, kemudian bangun lagi. Kaki saya sudah didempul dengan Counter Pain Cool yang ternyata secara ajaib bikin kaki saya gak bandel lagi. Sementara di kasur sebelah, Pak Je (Jaya) sedang mimpi, kentara sekali napasnya pelan dan dalam. Saya iri! :v

Akhirnya saya bangun sebentar untuk kucek jersey sedikit agar tidak terlalu masam besok. Cek status charge HP dan headset, kemudian rebahan lagi. Saya nyerah. Saya setel Banda Neira sealbum yang setau saya bisa jadi pengantar tidur. Sedikit berhasil, saya jadi bisa tidur sejenak, meskipun tidak nyenyak. Saya kangen bantal guling di rumah.

Tanpa terasa, ternyata sudah pagi.

Esa Tanpa Sarapan

Jadi kami booking 3 kamar untuk satu malam. Ketiganya double bed, dan satu kami minta satu bed dengan ukuran besar. Nah di kamar yang itu, Esa, Adi dan Azi yang dapat. Malang di Esa, saya sudah tebak bakalan tak nyaman tidur agak berdesakan di kasur untuk 2 orang. Ditambah hari itu kami semua kecapaian. Adi dan Azi sepertinya tidur tanpa masalah. Esa, di pihak lain, gelisah karena kakinya juga protes, seperti saya πŸ˜€

Belakangan juga pagi itu, saya baru tahu kalau jatah sarapan dihitung berdasarkan kamar. Jadi karena kita pesan 3 kamar double bed, maka jatahnya adalah 6 porsi sarapan yang termasuk dalam pembayaran. Esa sukarela tak kebagian sarapan pagi itu, jadi kami berikan sisa-sisa cemilan yang kami makan kemarin. Sarapan saya jadi gak begitu enak. Banyak terimakasih dan maaf, Sa!

Baru kepikiran, kenapa gak mesen sarapan ekstra ya?

Here We Go Again

Sebenarnya kaki saya sudah agak mendingan setelah absen di kasur semalaman tadi. Yang jadi masalah sekarang adalah, bagian bawah. Bokong saya Ya-Tuhan-kebas-gak-keruan. Kaku, bengkak, sama-sekali tak nyaman. Saya coba melemaskan badan sedikit dengan keliling bersepda di areal hotel. Dan ya, bokong saya protes. Haha.

Tapi, kami masih punya 190 kilometer lagi menuju rumah!

I surrender to whatever happens the following day

 

Jadi setelah kemarin kami buat sepuh kami sebagai bahan bercandaan, dengan hash tag #LiatAdiGak, hari ini kami punya misi. Adi, yang jarang pedal belakangan ini dan langsung hajar Grand Fondo sekalinya come-back, akan kami dorong dan tuntun agar tak tertinggal dari rombongan lagi.

Perjalanan mencari kitab suci, ke barat

Sebenarnya saya ingin sekali bantu narik di depan, memecah angin untuk teman-teman di belakang. Tapi untuk tetap di rombongan di posisi belakang saja ternyata nafas saya sudah tak karuan. Saya khawatir malah jadi memperlambat semuanya, yang saya tahu ingin segera sampai Denpasar lagi. Bergiliran, Ivan, Esa, Jaya dan bahkan Ade membuka jalan di depan. Azi kebanyakan tetap paling belakang, jaga-jaga kalau kakaknya tertinggal lagi.

Akhirnya di satu kesempatan saya dapat kehormatan itu. Kita sepakat untuk menjaga kecepatan maksimal di 25 km/jam. Selain untuk mencegah Adi tertinggal lagi, juga untuk mejaga stamina agar bisa kami tahan hingga malam nanti.

Indomaret PLTU Celukan Bawang

Adi memberi isyarat untuk isi ulang. Ternyata kantong airnya belum diganti dari kemarin. Rasanya mulai aneh, katanya. Oke. Mata kami refleks menyusuri pinggir jalan mencari plang minimarket terdekat. Yang pertama terlihat? Indomaret (lagi). Ah, sudah fix buat saya semenjak kemarin, surga kami di setiap pemberhentian jalan kami ya ini. Konyolnya, saya hanya terpaku pada plang kuning di depan, tanpa sadar apa yang saya lewati di kanan.

Kami tak berhenti lama, sadar kalau waktu hari itu hampir siang, dan kami masih jauh dari tempat makan siang.

Bergantian satu per satu dari kami maju ke depan untuk memimpin rombongan. Mengatur kecepatan dan memecah angin dari depan. Rute ke arah barat menuju Gilimanuk ini tak terlalu ekstrim. Hanya saja memang rolling, jika di lihat ke depan jalan terlihat bergelombang, naik, turun, naik, kemudian turun lagi, tapi tak sampai membuat kami berhenti memedal. Agak membosankan memang, terlebih jalannya kebanyakan lurus.

Pura Pulaki & Flat Tire Ketiga: Pak Je

Jadi kami sempat singgah sebentar, sayangnya hanya untuk foto, di depan Pura Pulaki

Udah mulai bosen dengan pose yang ini, tapi kami terlalu malas untuk memikirkan pose baru. Ya sudah.

Rasanya saya hampir bisa tidur di jalan sangking bosannya, kalau saja saya tidak sedang di atas sepeda. Jenuh. Tapi tiba-tiba Pak Je di depan berhenti. Saya tak ingat nama daerahnya, tapi yang jelas dekat sepasang candi bentar di sebelah warung. Pak Je (Jaya) flat tire belakang.

Sebenarnya saya agak sedikit bersyukur karena bisa istirahat sebentar. Haha. Kami berhenti sejenak sambil menunggu Pak Je dan Ajik mengganti ban belakang. Ini salah satu ilmu yang penting yang saya pelajari selama dalam perjalanan. Lebih memuluskan pengalaman saya (melihat) ganti ban.

Dulu sekali saat pertama bersepeda, hal pertama yang menjadi momok bagi saya adalah ban pecah, terlebih ban belakang. Ini karena cassette atau gear belakang yang digunakan untuk mengatur kecepatan merupakan bagian dari ban belakang. Jadi ketika perlu diganti, berarti cassete akan ikut dilepas dari rantai. Gimana masangnya nanti? Teorinya sih tahu, tapi melihat langsung tetap lebih baik :p

Kami juga sempat bagi-bagi penghilang pegal selama istirahat ini. Mungkin kalau tak pakai ini sebagai pengganti lotion pagi tadi, mungkin saya akan menderita setengah mati karena paha sudah pasti protes tak dapat istirahat cukup. Konterpein Cool as lotion. Yeah!

Taman Nasional Bali Barat

Ini adalah salah satu trek yang menjadi beban pikiran saya semenjak punya ide keliling Bali. Entah seberapapun menyenangkannya bersepeda ditemani pemandangan hijau di kanan-kiri, jika terlalu panjang, malah akan jadi tantangan bagi mental.

Tepi pinggir dari Taman Nasional ini sendiri sebenarnya memang menyenangkan untuk dilewati. Dengan mobil. Dengan sepeda lain lagi ceritanya. Memang beberapa kilometer pertama semua indah, begitu keren bersepeda di jalan sepi, di kanan dan kiri pohon rindang dengan bukit berbatu di kejauhan, kemudian ditemani beberapa lagu soundtrack saya saat bersepeda. Capek dari tadi serasa hilang.

Tapi semua berubah ketika otak mulai terbiasa dengan sekitar. Dia ingat lagi dengan paha yang pegal, napas yang tinggal setengah, dan panas terik matahari yang sedari tadi tanpa sadar sudah mengikuti.

Kami sempat istirahat sebentar di tempat parkir kosong (sepertinya) yang kami temui di jalan. Semua sudah tak bisa lagi menyembunyikan raut muka lelahnya. Haha. Hari kedua ini memang benar-benar menguji batas mental dan fisik. Adi dan Ajik sebenarnya mulai melambat sedari tadi, tapi saya ikuti dari belakang sampai akhirnya kami berhasil mengejar teman-teman di depan.

Sedikit reda capek kami, kita lanjutkan kembali perjalanan. Masih di hutan, tapi kali ini tidak ada tanda-tanda peradaban sama sekali. Kalau tadi masih ada saja warung atau bengkel di tepi jalan, kali ini hanya ada aspal mulus sejauh mata memandang ke depan. Tapi saya sedikit senang, karena ternyata banyak turunan dan hanya sedikit tanjakan yang kami temui di sini. Sisanya hanya jalan datar. Tidak terlalu datar. Di sinilah saya tinggal Ade, Pak Je, Adi dan Ajik di belakang.

Di satu bagian jalan terdapat tanjakan dengan belokan yang cukup curam. Saya memang belum terlalu mahir mengatur tempo di tanjakan apalagi harus mengikuti tempo teman yang lain. Ya sudah, dengan berat hati saya salip ke depan karena napas saya sudah mulai memburu. Saya ingin segera menyudahi tanjakan yang ini, dan nanti akan saya tunggu mereka di depan. Niatnya. Ternyata setelah tanjakan tadi adalah jalan landai. Momentum saya masih lumayan setelah tanjakan tadi. Pas! Ini adalah kesempatan untuk menguji sejauh mana saya bisa sprint dengan posisi drop bar. Maaf Bli, saya tinggal sekalian. Haha.

Sampai satu saat saya sadar Adi dan Ajik tak juga kelihatan di belakang. Ade sepertinya masih tertinggal. Pak Je yang tadi sempat menyalip saya juga tak terlihat lagi di depan. Saya sendiri! Dan percayalah, mengayuh sendirian di jalan sepi di tengah hutan itu, benar-benar ujian berat. Saya tak punya teman di depan untuk acuan kecepatan, juga tak punya teman di belakang untuk sekedar membagi senyum. Rasanya ingin sekali berhenti sebentar, menarik napas. Tapi saya ingin segera keluar dari hutan ini. Arghh!

Lama saya mengayuh hanya dengan harapan di belokan berikutnya, saya bakal melihat Ivan, Esa atau Pak Je. Rasanya sudah hampir habis stok motivasi saya, tapi mereka tak juga muncul. Ah, sudahlah. Saya kayuh sekenanya saja. Posisi saya masih di drop bar sedari tadi, tapi bukan untuk sprint. Napas saya hampir di ujung. Sial. Padahal medan jalannya bukan tanjakan, atau rolling. Apa ini? Saya terus mengayuh, hanya dengan harapan tipis.

Pedal lagi Rik, cepat keluar dari sini! (dalam hati)

Sampai akhirnya…

Yes! Esa, Ivan dan Pak Je sedang geletakan, tepat sebelum Gapura Jalak Bali, pertanda Pelabuhan Gilimanuk sudah di depan mata. Haaaah! Ha ha ha! Saya tertawa sendiri mengingat betapa putus asanya barusan di jalan. Ade menyusul tak sampai sepuluh menit kemudian. Setelahnya kami hanya bengong. Merenung, trek apa tadi itu barusan? :v

lemesin bro

Men Tempeh Gilimanuk

Gilimanuk. Artinya kami sudah berada di ujung barat Bali, setidaknya yang bisa dilewati sepeda. Adi dan Ajik masih tertinggal lumayan jauh. Kami putuskan untuk duluan ke arah pelabuhan, kabarnya ada satu Indomaret di sini. Penyelamat kami. Dan kebetulan Bawok (Bawa) teman DNS lainnya juga dinas di sini. Sudah, kami meetup sambil makan siang. Dan menunya apa?

Seharian kepanasan di jalan dan sekarang makan super pedas, ide bagus!

Sebenarnya saya agak khawatir bagaimana perut saya bakal bereaksi nanti di jalan. Tapi sudahlah. Saya terlalu lapar untuk memikirkan beratnya seharian ke depan. Yang ada di pikiran saya hanyalah Ayam Betutu.

Kepedesan level: langsung cegukan di suapan pertama.

Bawok (Bawa), ride berikutnya harus ikut!

Kami hanya sebentar di sini. Makan, istirahat sebentar, minum susu (takut mulas), isi ulang bekal, berangkat!

Taman Nasional Bali Barat – 2: Menerjang Badai

Ah, rasanya semangat lagi setelah makan. Kayuhan saya tiba-tiba jadi ringan. Yang lain juga sepertinya sama. Ivan, Esa dan Pak Je sudah duluan di depan, hilang entah ke mana. Saya tak mau langsung full gas. Tak mau ambil resiko dengan makanan tadi karena perjalanan masih panjang. Saya, Ade, Adi dan Ajik beriringan santai di belakang. Kecepatan kami stabil, bergantian menarik di depan. Sampai di satu titik dimana hujan mulai turun. Ah, apalagi ini?

Dari titik ini, kami tak ambil gambar sama sekali.

Setelah trek hutan barusan, sebenarnya ini bukan masalah besar buat kami. Malah senang, kaerna barusan kepanasan. Yang sebenarnya bikin saya kesal adalah, saya harus berhenti sebentar karena baru ingat charger dan kamera belum dibungkus plastik. Yang saya amankan tadi pagi hanya pakaian. Arrgh. Melengos malas ke belakang, saya persilahkan teman-teman duluan. Mereka mau cari tempat berteduh dulu, katanya (yang sialnya saya tak begitu perhatikan).

Sudah, selesai re-packing, hujan makin deras. Ah, tak peduli lagi. Saya pedal penuh ke depan. Saya ingin kejar mereka lagi. Ide tertinggal di belakang saat malam nanti terdengar mengerikan. Saya hanya tertunduk sambil terus memedal, memecah hujan yang sepertinya tak mau tahu kalau ada seseorang di sini yang sedang putus asa. Haha.

Sebenarnya di satu titik saya sempat mendengar sepertinya ada yang memanggil. Saya toleh ke belakang, tapi tak ada yang muncul. “Udahlah, mungkin salah denger”. Lanjut pedal lagi karena kondisinya masih hujan. Saya tak ingin tertinggal makin jauh dari yang di depan. Trek saat itu mulai berubah jadi rolling kembali, rumah penduduk juga mulai terlihat. Ini tandanya kami sudah dekat kota Negara, dan sudah keluar wilayah Taman Nasional.

Hujan mulai reda. Di depan terlihat ada orang sedang mengayuh sepeda. Harapan saya sebenarnya Ade, Adi atau Ajik yang barusan duluan. Tapi ini Pak Je! Lah, yang lain ke mana?

Belakangan saya baru tahu kalau memang mereka yang memanggil barusan. Gara-gara gak denger Ade nih…

Saya berasumsi barusan tadi mungkin memang dipanggil. Ade mungkin memilih berteduh karena membawa kamera juga.

Tak mau ambil pusing, toh mereka udah gede juga. Pak Je yang sedari tadi katanya sendiri, dengan sigap memimpin di depan. Saya ganti sebentar, dan ternyata anginnya lumayan kenceng. Haha. Speed kami yang tadinya 25 kmh turun jadi 20, drastis. Pak Je super memang. Ah, saya sekuat tenaga berusaha memedal agar kecepatan kami tak terlalu jauh turun. Pak Je sepertinya sedikit senyum di belakang melihat saya struggling di depan :v

Sampai akhirnya kami ketemu Ivan dan Esa yang hilang semenjak tadi. Wogh! Tak sangka bakal bisa menysul saat mereka masih mengayuh. Jadi rombongan terbagi dua, 4 di depan dan 3 di belakang.

Hari sudah mulai sore. Saya khawatir. Lagi.

Kota Negara terlewati, daerah Jembrana juga sudah hampir habis kami kayuh, tapi yang 3 teman di belakang tak juga terlihat. Sebelum perbatasan Jembrana – Tabanan, kami berhenti sebentar di minimarket. Tirtamart. Ini bakal saya ingat terus. Tempatnya bagus, ada banyak tempat ngemper untuk rebahan. Begitu masuk dengan atribut lengkap, kami lagsung ditanyai sedang ikut event apa? Ternyata penjaga tokonya sudah sering melihat orang-orang bersepeda lewat jalan itu, dan mereka singgah di sini. Kami juga ditawari beristirahat sebentar dan ditunjukkan tempat cuci muka. Yak, itu dia! Muka kami sudah penuh lumpur sedari tadi :v

Tebak siapa yang datang! Ade berhasil menyusul kami selagi di sana! Ha! Mantap De! Tapi itu juga artinya Adi dan Ajik kembali kembali hanya berdua di belakang 😐

Sekarang 5 di depan dan 2 di belakang. Saya makin khawatir, tapi kami juga tidak bisa ambil resiko untuk menunggu karena hari juga mulai gelap. Kami lanjut lagi setelah memakai lotion Kanterpein yang sebenarnya kami tau tak akan baik, tapi kami tak bisa berhenti sebelum sampai rumah!

Tabanan!

Entah kenapa mendengar nama Tabanan saya jadi begitu semangat. Tabanan seperti milestone. Penanda bahwa Badung tak jauh lagi. Tapi di sini juga kami mencapai limit kami.

Saat itu tiba-tiba Ivan atau Esa (saya lupa) mundur ke belakang. Ada hal penting. Kita perlu makan. Saya langsung tertegun, baru sadar sudah 6 jam terlewat semenjak kami makan terakhir. Kami perlu makan berat sekarang. Kalau tak diingatkan, mungkin kami akan berakhir dengan bonk (kehabisan energi, kolaps), terlalu terlambat untuk kami makan dan pulih kembali. Sedari tadi yang ada di otak saya hanyalah Kediri, Puspem dan rumah. Mental saya sudah mensugesti dirinya sendiri untuk membuat saya terus mengayuh.

Kami hanya makan Pop Mie di pinggiran jalan, di Pantai Yeh Leh, tepat di tugu perbatasan Tabanan dan Jembrana. Cukup. kami langsung lanjut lagi.

Saya tahu kalau Tabanan tak akan mudah untuk dilewati. Ditambah saat ini hari sudah gelap. Kami pasang lampu kami masing-masing. Matahari sudah jauh di barat, sepertinya mendokan kami untuk terus maju. Tadinya saya pikir rolling di sini tak akan lebih parah dari Jembrana barusan. Saya salah.

Mungkin semua sudah tahu kalau Tabanan, terutama di lintasan provinsi-nya merupakan jalan dengan tanjakan dan turunan ekstrim. Seringkali truk atau bus yang lewat di sana mengalami kecelakaan. Hari ini, kami akan melewatinya dengan sepeda, di malam hari. Penerangan kami minim. Lampu sepeda yang kami bawa tak memiliki terang yang cukup untuk menerangi jauh ke depan. Paling jauh hanya 20 meter. Sedangkan jalan di sini bisa berubah drastis secara tiba-tiba. Barusan datar, tiba-tiba tanjakan terjal dan panjang.

Beberapa kali saya harus memaksa paha saya yang sudah limit untuk off-saddle*. Saya tak sanggup lagi menambah cadence* dari yang sekarang. Napas saya sudah di ujung lagi. Arrgh. Lampunya Esa sempat jatuh. Kemudian Ivan dan saya sempat terlalu jauh di depan karena ini. Kondisi jalan di sana memang tak layak untuk bersepeda malam. Penerangan jalan tak selalu ada, bahkan di tempat-tempat kritis seperti turunan dengan belokan tajam.

Cadence: kecepatan putar pedal, rpm.
Off-Sadle: pedal sambil berdiri

Di turunan, kami tak punya pilihan lain selain mencengkram rem kami kuat-kuat, sambil bertahan di sadel agar tak terjungkal ke depan. Kemudian di tanjakan, kami harus sekuat tenaga mendaki dengan kondisi badan kami yang seharusnya sudah istirahat panjang sedari pagi. Saya sudah tak merasa pegal lagi. Paha dan badan saya sudah hampir mati rasa. Ivan juga. Tapi saya tak sadar ini sampai kami berhenti di sebuah warung untuk isi ulang lagi. Begitu lepas cleat, saya hampir tak bisa mengontrol jalan saya.

Ya Tuhan. Itu masih di daerah Megati.

Begitu kembali ke jalan, saya mendapat panggilan dari rumah. Wajar saja, saya sampaikan ke Ibu kalau prediksi kami sampai rumah adalah sore mejelang malam. Ini sudah hampir jam 9 dan kami masih di jalan. Saya coba jawab senormal mungkin sambil terus mengayuh. Haha. Saya tak ingin orang rumah khawatir. Sial. Sial. Sial.

Setelah itu kami cukup stabil di jalan. Tanjakan-tanjakan berat sudah terlewati. Tapi saya baru bisa lega setelah melihat Gapura masuk Kota Tabanan dan Patung Bung Karno di Kediri. Rasanya saya mau nangis saat itu juga. Perjalanan tak masuk akal ini hampir berakhir.

Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung!

Akhirnya ya Tuhan! Akhirnya kami finish! Saya terharu. Semenjak dari Kediri tadi saya sudah tersenyum sendiri di belakang. Sudah. Ini sudah selesai.

Sampai!

baru keluar lagi kameranya

Ujian terberat dalam hidup saya sejauh ini, bertahan hidup di jalan selama dua hari dengan sepeda. Rekor terjauh saya keluar rumah dengan kendaraan sendiri itu hanya sebatas Kintamani kemarin. Dua hari terakhir kami menggambar garis tipis sepanjang pesisir Pulau Bali dengan GPS kami. Achievment unlocked! Yang dibilang gak bakal bisa sudah kami lakukan dengan susah payah.

Tapi sayangnya kami finish tak lengkap. Saat kami sampai di Puspem, Adi dan Ajik masih di daerah Tabanan. Kami tunggu sampai tengah malam di sana, rebahan merenungi apa saja yang terjadi 48 jam belakangan.

Mereka akhirnya sampai jam 2 pagi. Selamat. Lelah, tapi selamat! Kami duluan pulang tepat tengah malam.

Sudah. Kami sudah mengukir sejarah, setidaknya untuk memori kami bertujuh. Akan ada cerita menarik yang bisa kami ceritakan ke anak-anak kami nanti. Entah apakah mereka akan turut mengayuh atau tidak, buat saya itu terserah mereka. Yang saya ingin mereka resapi, bahwa semua tantangan itu berawal dari pikiran, dan dengan pikiran juga kita bisa menaklukkannya. Dua hari ini, kami telah buktikan kalau semua ini bisa, bahkan hanya dengan modal dengkul, dan di kondisi hampir limit. Tanpa mobil yang mengikuti kami, tanpa support vehicle, kami mengayuh hanya dengan keyakinan dan niat untuk sampai rumah.

Saya, yang baru mulai 6 bulan lalu, langsung digembleng oleh mereka juga dan diseret untuk ikut petualangan seru ini. Suatu kerhormatan berbagi kenangan epic ini bareng kalian.

Strava 1 — Strava 2

2016-07-25-12.05.36-1.jpg.jpg

Terimakasih Tuhan, Adi, Ivan, Esa, Jaya, Ade, dan Azi!

Sincerely,
Your
silly-tailing buddy

 

Credit:
Sebagian foto di dua post terakhir serta video works (menyusul) karya Ade Putra Yudha, Our Proud AllRounder-Cameraman-Cyclist!

Iklan
Standar

6 thoughts on “Apa Itu Capek: DNS Tour Keliling Bali – 2

    • ryujisan berkata:

      ‘agetnya’ karena sudah ditawar susu soklat, perutnya jadi gak rewel. Itu, atau karena hujan jadi gak ngeh perut gak beres, Haha.

      Makasi banyak sudah mampir, Lit!

  1. deni berkata:

    Petualangan yg luar biasa bli! Cita2 saya pengen keliling bali. klo boleh sy mau kenalan sm semua anggota. Kebetulan sy dari kuta n baru mulai main roadbike. salam gowes!

    • ryujisan berkata:

      Salam gowes dan salam kenal, Deni!

      Ayok, kita biasanya weekend sabtu atau minggu. Ada kontak WA? sekalian kenalan samaa semua 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s