Corat-coret, Jurnal Sepeda

Mendaki Dinding Melasti

Ada satu hal di sepeda yang membuat saya penasaran semenjak selesai Tour kemarin. Mendaki. Sebenarnya climbing adalah momok terbesar saya sejak pertama kali diajak bersepeda bareng geng sepeda penuh sahaja ini. Lari boleh saja saya kuat, long-ride? Oke hajar! Tapi untuk climbing, saya mesti nunas ica dan mesesangi dulu, berharap bisa lulus.

Tantangan yang dihadapi bukan sekadar soal kuat atau tidaknya paha mengayuh pedal, tapi juga pada mental dan strategi memilih gear yang pas, bahkan sejak sebelum tanjakan terlihat. Saya masih terbilang anak bawang di atas pedal, jadi wajar rasanya masih merinding begitu mendengar tanjakan. Tapi berkat bertahan hidup selama 2 hari kemarin, rasanya saya seperti dikarbit karena dipaksa untuk ambil jam terbang tinggi prematur.

Saya jadi ingin tahu seberapa saya naik level, seberapa besar pengaruh event kemarin untuk saya dan teman-teman. Sebelum ke sini, kami bareng satu teman DnS baru menjajal tanjakan Pura Gunung Batukaru.

2016-07-24-01.31.25-2.jpg.jpg

Ary Manuaba, welkam-tu-de-klab!

Sebenarnya tak kalah mematikan, tapi lebih manusiawi karena naiknya panjang. Kita masih bisa berhenti di pertengahan untuk ambil napas dan istirahat.

Lain lagi ceritanya dengan Pantai Melasti ini. Hampir mirip Pantai Pandawa, pantai di sisi tebing lainnya, jalan turun menuju pantai ini dibuat oleh manusia dengan membelah bukit karang. Pada umumnya, jalan yang dibuat manual seperti ini biasanya dibagi menjadi segmen-segmen yang dipisah oleh tikungan tajam. Dan yang terpenting, jalannya adalah turunan. Dan di mana ada turunan, pasti ada tanjakan!

Duet Menantang Aspal

Sebenarnya ride mingguan kami untuk kali ini bukanlah Melasti. Tujuan DnS minggu ini adalah fun ride di salah satu SMA terkenal di Denpasar. Ini cuman saya yang penasaran, dan Ade yang berbaik hati jadi guide saya. Awalnya ada Pak Je (Jaya) yang ingin ikut juga, tapi akhirnya berhalangan karena deadline. Ah sayang. Padahal saya sudah berharap bakalan ditarik sepanjang jalan oleh 2 climber DnS :v

Tak apa, itu artinya saya bisa latihan narik di depan, meski pun cuman untuk satu orang.

2016-07-31-04.51.11-1.jpg.jpg

Titik kumpul: Lio Square. Itu Om-Om Bule seberang jalan ngeliatin terus dari tadi

Ade datang tak lama setelah saya sampai. Kami langsung hajar ke selatan. Ada dua tanjakan agung menanti kami di rute kali ini.

Tanjakan STP: Revisited

Jadi jauh sebelum saya kenal Pantai Melasti, yang menjadi momok di rute selatan adalah ini: Tanjakan menuju STP (Sekolah Tinggi Pariwisata Bali). Daerah Bali Selatan memang daerah bukit kapur yang dirubah sedikit demi sedikit untuk dihuni. Jadi wajar rasanya jika banyak tanjakan dan turunan di sana-sini.

Ade, kebetulan juga tinggal di dekat sini. Jadi gak heran juga kalau nanjaknya jago :v
(biasanya kalau ada ride, pasti ke kampung halaman dulu, di Kapal)

Balik ke tanjakan STP, sebenarnya kalau bawa motor gampang, tinggal pasang gear bawah dan geber gas. Walaupun motor matic, saya rasa tak ada masalah. Nah ini, kami bawa sepeda. Dari rumah pula. Bisa dibilang setengah dari persediaan energi kami untuk ride sudah menguap sepanjang jalan ke sini. Ditambah lagi angin yang lumayan kencang, dan ada tanjakan lumayan terjal saat kita masuk ke areal Bualu. Ah mantap lah.

Sebenarnya kami berdua sudah lulus di sini, tapi saya pengen tahu seberapa tahan saya nanjak setelah sekian lama. OK, menjelang tanjakan saya pasang gear agak ke tengah untuk membentuk momentum. Sebentar sebelum tanjakan, saya naikkan satu step, dan saya mulai off-saddle. Selama tanjakan, ternyata masih ngos-ngosan juga :v Sampai atas napas saya habis, rasanya hampir sesak. Tapi hanya itu. Sebentar istirahat badan saya sudah siap lagi. Tapi sebentar, Ade perlu mengosongkan hidung dulu, tadi dia nanjak dengan muatan banyak. Pilek.

2016-07-30-06.41.18-1.jpg.jpg

2016-07-30-06.40.55-1.jpg.jpg

2016-07-30-06.41.33-1.jpg.jpg

“udah lega”

Kok bisa nanjak pake hidung mampet, De?
(salim)

Menuju Melasti

Jalan menuju Melasti ini enak. Ada beberapa ruas jalur yang kanan-kirinya ditumbuhi pohon perindang jalan lumayan tinggi, rapat pula. Jadi serasa ride di hutan. Daerah sini sangat sepi penduduk. Hanya ada beberapa rumah di satu sisi, kemudian tanah kosong beberapa ratus meter ke depan. Jadi enak, jalan hanya milik kami berdua. Ada beberapa villa juga sepanjang jalan. Sayangnya saya tak sempat berhenti untuk mengambil foto. Nanti lah, kami kunjungi lagi Pantai ini rame-rame. Rasanya belum semua teman-teman DnS pernah ke sini dengan sepeda.

Di ujung jalur, ada jalan turun ke kiri yang agak seram. Kanan kirinya tak lagi pohon, tapi semak yang lumayan tinggi. Tebing terbelah sudah terlihat, tak jauh di depan. Kami sampai.

Ah, perjalanan kali ini sangat-sangat worthed. Melihat view pantai dari atas seperti melepas lelah selama perjalanan barusan. Saya lupa sebentar kalau nanti bakal nanjak mati-matian 😀 Sudahlah, mari dinikmati dulu.

2016-07-30-06.44.39-1.jpg.jpg
2016-07-30-06.44.50-1.jpg.jpg

Di sana kami sempat ketemu beberapa pesepeda lain. Setelah kenalan, kamu tahu kalau mereka berasal dari sekitar sana. Tak jauh. Uniknya sepeda ya begitu. Dimanapun ketemu, paling tidak pasti paling tidak tegur sapa, atau malah ngobrol panjang dan foto bareng, kalau sempat. Tak peduli dari mana, sepeda apa, atau umur berapa, sekali ketemu seperti ada kedekatan tersendiri. Serasa ketemu teman lama, padahal baru kenal.

fb_img_1469885329894.jpg

Linz, Wayan dan Gede. Ternyata kenalan Pak De Cedi

Ngobrol dan isi ulang perut sebentar, sekarang saatnya saya sudahi rasa takut ini.

Let’s be done with it

Oke. Mari kita tuntaskan ini. Kami mulai menuju barat, bukit tempat tanjakan berada. Saya kira pantai ini hanya ada satu jalan keluar masuk, dan tanjakan tempat saya turun tadi adalah tanjakan maut yang dimaksud. Tapi bukan. Udah agak senang sebenarnya kalau turunan masuk tadi yang dibilang mematikan. Sombong. Tapi saya salah, secara mengenaskan.

Jalan menuju barat mulai menanjak begitu berbelok lagi ke utara. Yang tadinya saya kira masih datar, ternyata sudah mulai berat bahkan sebelum terlihat menanjak. Apa ini?!

Belok ke selatan tak jauh di depan, Ade sudah pasang gear paling besar. “Yih, De, dadi selidan be gigi gede?” (kok dari awal sudah pasang gigi besar?). Ade cuman cekikikan. Hati saya melengos. Dewa Ratu. Seumur-umur naik sepeda, baru kali ini saya ketemu tanjakan yang bahkan dari awal sudah harus pasang gigi besar. Paling besar. Biasanya saya ganti naik secara bertahap, bahkan biasanya gigi pamungkas nomer 30 itu hampir tak pernah keluar. Gigi ribut. Saya cuman bisa nurut, ikut pasang kombinasi yang sama. Ade sebenarnya malah cuman 28 😤

Mantap De!

Tanjakan mautnya baru terlihat setelah jalan di bukit kapur itu belok lagi ke utara. Dan astaga-ya-Tuhan-terjalnya! Pantesan dibilang dinding. Panjangnya sebenarnya tak seberapa, mungkin tak sampai 200 meter. Tapi kemiringannya sudah bikin saya ciut dari awal :v Ah, sudah! Pelan tapi pasti Rik!

Saya mulai dancing dari awal tanjakan. Sial, bukit kapur tadi juga berupa tanjakan, jadi napas saya sejak awal ini memang sudah setengah. Asem!  Paha saya sudah protes bahkan di 4 kayuhan pertama. Saya gak maju-maju juga! Ini kalau saya paksa lepas cleat dan turun, resikonya saya bakal gelinding jatuh ke belakang. Maju, tapi paha menjerit, ditambah gak boleh turun, karena takut jatuh. Gak, gak boleh!

Ade sudah hampir sampai atas. Sementara tangan saya mulai kesemutan, setengah tanjakan sudah lewat. Napas saya sudah entah gimana, jelas sekali terdengar. “Napas Rik, masuk, keluar, masuk, keluar…” Sebegitu sesaknya, sampai-sampai saya harus 100% sadar hanya untuk bernapas. Tangan sudah saya kunci sedari tadi. Kontrol saya pada mereka tipis. Paha saya mulai tak terasa. Sedikit saja lengah, selesai sudah. Arrgh, gak boleh turun! Gak Boleh!

Dan akhirnya…

2016-07-30-06.45.11-1.jpg.jpg

Lulus! 😆
(sujud syukur)

Ah sudah. Tarik napas bentar.

Tak sampai sepuluh menit, tapi rasanya setengah mati. Ternyata di ujung tanjakan, teman-teman yang kenalan barusan juga lagi istirahat. Haha. Terlihat tak lebih segar dari kami. Padahal mereka bawa MTB, yang notabene harusnya lebih enak di tanjakan. Tapi mungkin hitungannya hampir sama ya. MTB, gear besar (depan kecil) banget tapi frame-nya lebih berat. Road Bike, frame ringan tapi gearnya gak sebesar (atau kecil) dari MTB.

Saya pikir semuanya balik ke yang mengayuh. Mental kami ditantang untuk bertahan dalam kondisi fisik yang dipaksa maksimal. Saya malah ngerasa hampir pingsan barusan. Tapi semangat untuk sampai di atas yang membuat bertahan, untuk berhasil lulus di tiap tanjakan.

Sepanjang jalan pulang saya penuh semangat. Padahal harusnya capek ya. By Pass Ngurah Rai itu panes minta ampun setelah jam 9. Belum lagi traffic-nya yang mulai padat. Tapi beberapa kali saya narik di depan, tanpa sadar Ade kejauhan di belakang. Malah sampai protes “Uli tunian 30km/h, kal ngalih 40 ne Om?!”

2016-07-30-06.45.01-1.jpg.jpg

“ah, cuman gitu tok”

Ampure De, dan terimakasih banyak!

Oke fix. Lulus! Sekarang yang repot adalah, kalau nanti ke sini lagi, saya sama sekali gak boleh turun, atau itu bakal jadi hutang yang harus saya bayar di ride berikutnya.

Iklan
Standar