Corat-coret, Jurnal Sepeda

Mendaki Dinding Melasti

Ada satu hal di sepeda yang membuat saya penasaran semenjak selesai Tour kemarin. Mendaki. Sebenarnya climbing adalah momok terbesar saya sejak pertama kali diajak bersepeda bareng geng sepeda penuh sahaja ini. Lari boleh saja saya kuat, long-ride? Oke hajar! Tapi untuk climbing, saya mesti nunas ica dan mesesangi dulu, berharap bisa lulus.

Tantangan yang dihadapi bukan sekadar soal kuat atau tidaknya paha mengayuh pedal, tapi juga pada mental dan strategi memilih gear yang pas, bahkan sejak sebelum tanjakan terlihat. Saya masih terbilang anak bawang di atas pedal, jadi wajar rasanya masih merinding begitu mendengar tanjakan. Tapi berkat bertahan hidup selama 2 hari kemarin, rasanya saya seperti dikarbit karena dipaksa untuk ambil jam terbang tinggi prematur.

Saya jadi ingin tahu seberapa saya naik level, seberapa besar pengaruh event kemarin untuk saya dan teman-teman. Sebelum ke sini, kami bareng satu teman DnS baru menjajal tanjakan Pura Gunung Batukaru.

2016-07-24-01.31.25-2.jpg.jpg

Ary Manuaba, welkam-tu-de-klab!

Sebenarnya tak kalah mematikan, tapi lebih manusiawi karena naiknya panjang. Kita masih bisa berhenti di pertengahan untuk ambil napas dan istirahat.

Lain lagi ceritanya dengan Pantai Melasti ini. Hampir mirip Pantai Pandawa, pantai di sisi tebing lainnya, jalan turun menuju pantai ini dibuat oleh manusia dengan membelah bukit karang. Pada umumnya, jalan yang dibuat manual seperti ini biasanya dibagi menjadi segmen-segmen yang dipisah oleh tikungan tajam. Dan yang terpenting, jalannya adalah turunan. Dan di mana ada turunan, pasti ada tanjakan!

Duet Menantang Aspal

Sebenarnya ride mingguan kami untuk kali ini bukanlah Melasti. Tujuan DnS minggu ini adalah fun ride di salah satu SMA terkenal di Denpasar. Ini cuman saya yang penasaran, dan Ade yang berbaik hati jadi guide saya. Awalnya ada Pak Je (Jaya) yang ingin ikut juga, tapi akhirnya berhalangan karena deadline. Ah sayang. Padahal saya sudah berharap bakalan ditarik sepanjang jalan oleh 2 climber DnS :v

Tak apa, itu artinya saya bisa latihan narik di depan, meski pun cuman untuk satu orang.

2016-07-31-04.51.11-1.jpg.jpg

Titik kumpul: Lio Square. Itu Om-Om Bule seberang jalan ngeliatin terus dari tadi

Ade datang tak lama setelah saya sampai. Kami langsung hajar ke selatan. Ada dua tanjakan agung menanti kami di rute kali ini.

Tanjakan STP: Revisited

Jadi jauh sebelum saya kenal Pantai Melasti, yang menjadi momok di rute selatan adalah ini: Tanjakan menuju STP (Sekolah Tinggi Pariwisata Bali). Daerah Bali Selatan memang daerah bukit kapur yang dirubah sedikit demi sedikit untuk dihuni. Jadi wajar rasanya jika banyak tanjakan dan turunan di sana-sini.

Ade, kebetulan juga tinggal di dekat sini. Jadi gak heran juga kalau nanjaknya jago :v
(biasanya kalau ada ride, pasti ke kampung halaman dulu, di Kapal)

Balik ke tanjakan STP, sebenarnya kalau bawa motor gampang, tinggal pasang gear bawah dan geber gas. Walaupun motor matic, saya rasa tak ada masalah. Nah ini, kami bawa sepeda. Dari rumah pula. Bisa dibilang setengah dari persediaan energi kami untuk ride sudah menguap sepanjang jalan ke sini. Ditambah lagi angin yang lumayan kencang, dan ada tanjakan lumayan terjal saat kita masuk ke areal Bualu. Ah mantap lah.

Sebenarnya kami berdua sudah lulus di sini, tapi saya pengen tahu seberapa tahan saya nanjak setelah sekian lama. OK, menjelang tanjakan saya pasang gear agak ke tengah untuk membentuk momentum. Sebentar sebelum tanjakan, saya naikkan satu step, dan saya mulai off-saddle. Selama tanjakan, ternyata masih ngos-ngosan juga :v Sampai atas napas saya habis, rasanya hampir sesak. Tapi hanya itu. Sebentar istirahat badan saya sudah siap lagi. Tapi sebentar, Ade perlu mengosongkan hidung dulu, tadi dia nanjak dengan muatan banyak. Pilek.

2016-07-30-06.41.18-1.jpg.jpg

2016-07-30-06.40.55-1.jpg.jpg

2016-07-30-06.41.33-1.jpg.jpg

“udah lega”

Kok bisa nanjak pake hidung mampet, De?
(salim)

Menuju Melasti

Jalan menuju Melasti ini enak. Ada beberapa ruas jalur yang kanan-kirinya ditumbuhi pohon perindang jalan lumayan tinggi, rapat pula. Jadi serasa ride di hutan. Daerah sini sangat sepi penduduk. Hanya ada beberapa rumah di satu sisi, kemudian tanah kosong beberapa ratus meter ke depan. Jadi enak, jalan hanya milik kami berdua. Ada beberapa villa juga sepanjang jalan. Sayangnya saya tak sempat berhenti untuk mengambil foto. Nanti lah, kami kunjungi lagi Pantai ini rame-rame. Rasanya belum semua teman-teman DnS pernah ke sini dengan sepeda.

Di ujung jalur, ada jalan turun ke kiri yang agak seram. Kanan kirinya tak lagi pohon, tapi semak yang lumayan tinggi. Tebing terbelah sudah terlihat, tak jauh di depan. Kami sampai.

Ah, perjalanan kali ini sangat-sangat worthed. Melihat view pantai dari atas seperti melepas lelah selama perjalanan barusan. Saya lupa sebentar kalau nanti bakal nanjak mati-matian 😀 Sudahlah, mari dinikmati dulu.

2016-07-30-06.44.39-1.jpg.jpg
2016-07-30-06.44.50-1.jpg.jpg

Di sana kami sempat ketemu beberapa pesepeda lain. Setelah kenalan, kamu tahu kalau mereka berasal dari sekitar sana. Tak jauh. Uniknya sepeda ya begitu. Dimanapun ketemu, paling tidak pasti paling tidak tegur sapa, atau malah ngobrol panjang dan foto bareng, kalau sempat. Tak peduli dari mana, sepeda apa, atau umur berapa, sekali ketemu seperti ada kedekatan tersendiri. Serasa ketemu teman lama, padahal baru kenal.

fb_img_1469885329894.jpg

Linz, Wayan dan Gede. Ternyata kenalan Pak De Cedi

Ngobrol dan isi ulang perut sebentar, sekarang saatnya saya sudahi rasa takut ini.

Let’s be done with it

Oke. Mari kita tuntaskan ini. Kami mulai menuju barat, bukit tempat tanjakan berada. Saya kira pantai ini hanya ada satu jalan keluar masuk, dan tanjakan tempat saya turun tadi adalah tanjakan maut yang dimaksud. Tapi bukan. Udah agak senang sebenarnya kalau turunan masuk tadi yang dibilang mematikan. Sombong. Tapi saya salah, secara mengenaskan.

Jalan menuju barat mulai menanjak begitu berbelok lagi ke utara. Yang tadinya saya kira masih datar, ternyata sudah mulai berat bahkan sebelum terlihat menanjak. Apa ini?!

Belok ke selatan tak jauh di depan, Ade sudah pasang gear paling besar. “Yih, De, dadi selidan be gigi gede?” (kok dari awal sudah pasang gigi besar?). Ade cuman cekikikan. Hati saya melengos. Dewa Ratu. Seumur-umur naik sepeda, baru kali ini saya ketemu tanjakan yang bahkan dari awal sudah harus pasang gigi besar. Paling besar. Biasanya saya ganti naik secara bertahap, bahkan biasanya gigi pamungkas nomer 30 itu hampir tak pernah keluar. Gigi ribut. Saya cuman bisa nurut, ikut pasang kombinasi yang sama. Ade sebenarnya malah cuman 28 😤

Mantap De!

Tanjakan mautnya baru terlihat setelah jalan di bukit kapur itu belok lagi ke utara. Dan astaga-ya-Tuhan-terjalnya! Pantesan dibilang dinding. Panjangnya sebenarnya tak seberapa, mungkin tak sampai 200 meter. Tapi kemiringannya sudah bikin saya ciut dari awal :v Ah, sudah! Pelan tapi pasti Rik!

Saya mulai dancing dari awal tanjakan. Sial, bukit kapur tadi juga berupa tanjakan, jadi napas saya sejak awal ini memang sudah setengah. Asem!  Paha saya sudah protes bahkan di 4 kayuhan pertama. Saya gak maju-maju juga! Ini kalau saya paksa lepas cleat dan turun, resikonya saya bakal gelinding jatuh ke belakang. Maju, tapi paha menjerit, ditambah gak boleh turun, karena takut jatuh. Gak, gak boleh!

Ade sudah hampir sampai atas. Sementara tangan saya mulai kesemutan, setengah tanjakan sudah lewat. Napas saya sudah entah gimana, jelas sekali terdengar. “Napas Rik, masuk, keluar, masuk, keluar…” Sebegitu sesaknya, sampai-sampai saya harus 100% sadar hanya untuk bernapas. Tangan sudah saya kunci sedari tadi. Kontrol saya pada mereka tipis. Paha saya mulai tak terasa. Sedikit saja lengah, selesai sudah. Arrgh, gak boleh turun! Gak Boleh!

Dan akhirnya…

2016-07-30-06.45.11-1.jpg.jpg

Lulus! 😆
(sujud syukur)

Ah sudah. Tarik napas bentar.

Tak sampai sepuluh menit, tapi rasanya setengah mati. Ternyata di ujung tanjakan, teman-teman yang kenalan barusan juga lagi istirahat. Haha. Terlihat tak lebih segar dari kami. Padahal mereka bawa MTB, yang notabene harusnya lebih enak di tanjakan. Tapi mungkin hitungannya hampir sama ya. MTB, gear besar (depan kecil) banget tapi frame-nya lebih berat. Road Bike, frame ringan tapi gearnya gak sebesar (atau kecil) dari MTB.

Saya pikir semuanya balik ke yang mengayuh. Mental kami ditantang untuk bertahan dalam kondisi fisik yang dipaksa maksimal. Saya malah ngerasa hampir pingsan barusan. Tapi semangat untuk sampai di atas yang membuat bertahan, untuk berhasil lulus di tiap tanjakan.

Sepanjang jalan pulang saya penuh semangat. Padahal harusnya capek ya. By Pass Ngurah Rai itu panes minta ampun setelah jam 9. Belum lagi traffic-nya yang mulai padat. Tapi beberapa kali saya narik di depan, tanpa sadar Ade kejauhan di belakang. Malah sampai protes “Uli tunian 30km/h, kal ngalih 40 ne Om?!”

2016-07-30-06.45.01-1.jpg.jpg

“ah, cuman gitu tok”

Ampure De, dan terimakasih banyak!

Oke fix. Lulus! Sekarang yang repot adalah, kalau nanti ke sini lagi, saya sama sekali gak boleh turun, atau itu bakal jadi hutang yang harus saya bayar di ride berikutnya.

Iklan
Standar
Corat-coret, Jurnal Sepeda

Mendaki Kintamani

Pagi itu, Minggu 29 Mei 2015, tumben-tumbennya saya dengan senang hati langsung bangun subuh. Hari itu sudah kami rencanakan dari sebulan lalu, dari ngeblok jatah libur (Esa doang sih) sampai persiapan mental maha kolosal karena akan ada perjalanan khusus hari itu juga.

Seperti biasa, Esa gak bisa tidur. Jam 3 pagi sudah kelihatan spam ping di grup Whatsapp, bangunin yang lain. Gak ngaruh sebenernya, lha wong hapenya dimatiin. Masuk notif juga sehabis alarm. Saya bergegas charge hp dan mandi. Saya harus berangkat lebih awal kali ini, titik kumpul yang disepakati di KFC Nangka, hampir sejam gowes dari rumah. Pemanasan.

Singkat cerita, gowes santai berbekal nasi goreng anget subuh bikinan Ibuk rasanya enteng. Mungkin karena excited juga. Sudah 2 minggu ini kita puasa gowes jauh. Minggu kemarin cuman CFD di Renon, sementara minggu sebelumnya, Esa bareng Ivan kabur ke Jawa. Jadilah hari ini semangat tumpah semua, kelamaan ditahan. Saya tiba on-time dengan bonus pemandangan langit spektakuler sebagai sarapan mata hari itu.

image

Kenalkan, Tanya & Santos
Sampai di tikum, Esa, Ivan dan Pak Je sudah ngobrol santai. Sayang memang, DNS gak full team kali ini. Ade & Adi sibuk kerja (seperti biasa), yang otomatis bikin Ajik juga gak ikut. Tapi kita gak cuma berempat kali ini. Ada 2 orang teman yang akan tandem team bareng kita hari ini. Tanya (namanya), dari Ukraina lagi di Bali urusan kerja, datang ditemani Santosh (atau Santoz? Tanya lidahnya Rusia, jadi agak rancu).

Yang bikin agak-agak, Santosh datang naik MTB Down-Hill, kelas sepeda yang sama sekali gak cocok (meskipun bisa) untuk dipakai ride di jalan. Jalannya nanjak pula 😀 Ternyata Santosh merelakan sepedanya ditunggangi Tanya hari itu. Tanya kebetulan gak bawa sepedanya ke Bali, tapi ngidam banget gowes jauh. Santosh is such a Gentelman! Meski begitu, agak prihatin sebenarnya begitu lihat cassette-nya. Tebakan saya itu 11-23 atau 11-25. Dari pengalaman sebelumya, bawa sepeda  dengan 11-25 itu perlu mental yang kuat, karena tenaga pasti habis di tanjakan panjang. Ditambah Tanya tumben gowes lagi. Sekalinya gowes, sepeda modal pinjem, pakai cassette kecil, cewek lagi.

20km pertama
Dengan sepeda salah-habitatnya, Santosh agak tertinggal jauh di belakang. Iyalah Pak, berat. Ada Esa sama Pak J yang menimpali, sementara saya dan Ivan bareng Tanya duluan di depan. Gak ada set-set sebelum jalan sebenarnya. Karena seperti biasa Ivan ngilang duluan di depan, terus saya dan Tanya yg kebetulan di belakang Ivan berusaha mengejar, tanpa sadar yang lain sudah hilang di belakang. Ikutan ngilang kali ini :v

Kita tunggu sekitar 10 menit di pertigaan sebelum ke Ubud (kalau ke kanan, gak tau namanya). Pak Je dan Esa datang dengan berseri-seri, sementara Santosh nguber napas sambil tetep senyum, karena, Tanya terus minta maaf sepedanya dia yang pakai. Kita sempat istirahat beberapa kali sebelum masuk daerah kaki gunung. Jalurnya nanjak tapi gak keliatan nanjak. Bangke memang. Jalan kayaknya lurus, tapi napas entah kemana perginya 😀

image

Jatuh bego, hutang di hutan pinus
Ada kejadian lucu sebelum puncak. Jadi jalur yang kita ambil melewati hutan pinus Kintamani. Karena jalurnya sudah nanjak dari awal, alhasil paha panas, kaku semua. Saya berhenti sebentar tepat di tepi hutan, setelah tanjakan terakhir sebelum masuk pepohonan. Masih ngos-ngosan, Tanya & Esa menyusul dari belakang dan ikut berhenti juga, ambil napas. Nah lucunya, karena memang kita sudah terlalu capek, untuk jalan lagi dengan cleat rasanya beraaaaat :v Tanya didorong Esa untuk mulai start lagi, untuk jalan duluan. Lucunya lagi, pas saya mau start, entah lupa kalau sudah capek atau gimana, pas mau clip-in kaki kiri lemes, gak mau masuk. Konsen saya pecah. Lupa pedal kaki kanan, saya jadi diem di tempat dong. Begitu sadar, saya udah di bawah. Jatuh bego lagi :v

wp-1465139458715.jpg

Dikit. Lecetnya. Malunya yang parah. Haha. Brifter kanan lecet juga, plus belok.

Pak Je dulu pertama ke sini konon katanya bikin hutang. Entah nuntun sepeda atau gak habis sekali hajar, gak tahu. Nah tadi saya sempat bercanda pas Pak Je nyeletuk, “… pokoknya hari ini lunasin hutang!“, saya asal jawab “atau bikin hutang…” :v Percayalah sodarra-sodarra, kata-kata bisa jadi doa. Beneran, saya gak kuat kayuh habis tanjakan di sana. Sempat turun dulu beberapa menit sebelum kayuh lagi sampai atas. Sekali aja tapi ya. Berhentinya sekali aja. Tapi tetep, bikin hutang beneran dah.

On Top, at last!
Di Hutan Pinus, saya gak berani berharap banyak ini akan cepat berakhir. “Ayo Rik, satu pedal, satu pedal, satu pedal lagi” kata-kata itu saya ulang-ulang terus Dada sudah sesak sejak awal masuk, paha dan kaki gak usah ditanya. Yang jelas saya gak berani lihat ke tanjakan di depan :p

Beberapa menit kemudian (yang rasanya berjam-jam) trotoar paving mulai kelihatan. “Wah, dikit lagi sampai atas!”. Polos pikir begitu, karena gear sudah habis terpakai, tenaga apalagi. Ternyata lepas dagang camilan dan buah, di pertigaan, Ivan, Esa dan Pak Je udah santai di dipan emperan warung. Haha, sampek ternyata! Pak Je sudah lahap makan pop mie. Hutangnya lunas. Tanya menyusul beberapa menit kemudian.

image

On top we are!

Sehabis makan nasi bungkus berbonus roti sisir 2 potong, waktunya foto!

image
image

image

image

Dan, Gunung Baturnya…

image

image

image

Semua perjuangan tadi terbayar, hilang semua capeknya. Terlebih jalur yang menunggu di depan ini turunan panjang (akhirnyaaa). Saking panjangnya bisa buat ngantuk.

Perjalanan kali ini adalah yang paling jauh (sementara ini) Paling buat capek sekaligus paling berkesan. Mendaki Kintamani jelas gak mudah, dengkul pemula apalagi. Tapi semua worthed. Gak sabar bayar hutang kembali ke sini, tapi, gak dalam waktu dekat 😀

Standar
Corat-coret

Setelah Setahun Lebih

Halo, saya balik!

Sudah setahun lebih semenjak post-series ‘nungkak’ terakhir. Maaf, niatnya tergerus kejadian-kejadian tak mengenakkan dulu.

Banyak sekali yang berubah selama 1,5 tahun kemarin. Drastis. Setahun kemarin bisa dibilang tahun dengan perubahan terbanyak yang pernah saya alami seumur hidup. Mulai dari pamit dari tempat kerja yang nampung saya 6 tahun terakhir, start to live my dream di tempat kerja baru (masih karyawan), balik kayuh pedal setelah hampir 8 tahun berhenti, dan ketemu banyak orang-orang baru.

This is me being selfish talking unnecessary stories about my own life right here. Feel free to close this page, and thank you so much if you decided to read along 🙂 Much apreciation! (leave a comment down below so I know you!)

(deep breath)
OK, let’s spit this things out of my head…

Kenalkan, Bullseye Bali. Tempat yang konon jadi rumah bagi sekian developer kondang yang ada di jagat pemrograman lokal Bali. Saya sendiri baru tahu masalah ini saat bertemu dengan seorang developer dari tetangga sebelah. “Developer sini mentoknya di Bullseye, dah, gak ada tempat lain.” Saya pikir begitu beruntung tukang copy-paste kode macam saya bisa kesasar ke tempat yang se-elit ini. Ekosistemnya saya akui memang beda, sangat asing dari tipikal tempat kerja kebanyakan di sini. Tidak ada dress code, sangat santai dalam pembicaraan (semuanya lewat diskusi), dan rasanya gak ada jarak sama sekali antara karyawan level bawah (developer) dengan GM biasa langsung ngobrol bebas dengan suasana kekeluargaan. Ini antara Tuhan terlalu baik nyasarin saya langsung ke sini, atau malah jadi semacem ujian karena jujur, saya kaget dengan semua perubahan drastis macem ini. Oya, perlu disebut juga ini pertama kali dalam hidup saya melamar pekerjaan ke korporasi. Hidup kadang selucu itu.

Alasan kenapa saya pamit dari tempat lama, sebagian besar karena memang sudah mentok, sekian bulan setelah kelulusan terasa stagnan tanpa ada peningkatan berarti. Selain juga untuk menepati janji saya untuk diri sendiri: “Jika setahun setelah wisuda tak ada perubahan (secara skill pribadi), saatnya move-on.

Di tempat baru, saya bisa sempatkan untuk menghabiskan waktu lebih di puputan, dengan orang-orang yang sangat berpengaruh positif untuk pikiran penyendiri macam saya (akan saya ceritakan lain waktu). Dan baru-baru ini, saya putuskan untuk kembali mengayuh pedal, nostalgia kembali ke masa SMP dulu, saat hidup terasa begitu pelan tapi pasti. Tak harus terburu-buru mengejar sesuatu seperti sekarang, saat semua harus cepat dan tepat.

Tersadar saya melewatkan begitu banyak hal-hal besar dalam perjalanannya.

12508722_10208281413610827_7722185542728599170_n

Polygon Strattos S2 – genjot masbro!

Sepeda road-bike kelas termurah, cukuplah sambil lihat kemana perginya nanti semangat saya yang lebih sering angin-anginan. Yang jelas target tahun ini adalah bike-to-work minimal 2 kali seminggu. Berangkat lebih pagi, lebih santai.

I’ll be writing more from now on.
(I know I know, I said it too the last time. I’ll try my best to make it happen this time)

Standar
Corat-coret

Perspektif Bodoh II – Nosstress

Jumat 22 Agustus 2014 adalah jumat yang saya tunggu sejak awal tahun lalu. Malam itu, salah satu band indie Bali meresmikan album keduanya. Nosstress merilis karya terbaru, Perspektif Bodoh II. Sambungan dari album satu yang dinamakan sama, mereka masih membahas dunia dari sudut yg sederhana.

Nosstress
Semisal sahabat belum tahu, Nosstress adalah salah satu band indie lokal Bali, yang dari 2008 hingga saat ini sangat hits dengan segala  kesederhanaannya. Nosstress adalah Man Angga (vokal & gitar), Kupit (vokal & gitar) serta Cok (vokal, cajoon, harmonika, pianika). Ya hanya tiga orang itu, tanpa bentotan bass, mengusung folk akustik mereka menyuarakan keresahan yang ada di sekitar. Bahasa yang mereka gunakan simpel namun juga mendalam di saat bersamaan. Ini yang saya suka dari mereka secara pribadi. Kata seorang teman, mereka adalah versi sederhana dan frontal dari Dialog Dini Hari.

Sedikit flashback. Saya ingat pertama diceritakan oleh teman tentang “trio ajaib” ini. Mereka secara penampilan memang sangat sederhana. Haha. Bahkan konon ada saat mereka menggunakan sendal jepit ke atas panggung, saat band lain “nampil” dengan segala pakaian necis ala selebriti. Tapi musik yang mereka bawakan tidak bisa begitu saja disepelekan. Sahabat yang mahir mungkin bilang chord yang mereka mainkan tak begitu rumit. Lirik adalah kekuatan mereka. Isu sosial yang seringkali terlewat mereka bahas dengan “ajaib”. Satu yang jadi favorit (sebenarnya semua favorit) adalah track “Tunda”.

… satu hal yang terburuk dalam hidupku adalah ketika aku tak langsung mengerjakan masalah yang seharusnya kukerjakan, sering aku lakukan….

Baru kelar satu bait saya langsung kesindir.

Nosstress dan skripsi
Skripsi saya, selayaknya skripsi yang lain, penuh drama dan konflik, macam film kolosal. Dan selalu ada soundtrack di setiap film kolosal. Salah satu yang klop ya Nosstress. Coba dengar track “Bersama Kita”. Sahabat akan langsung tahu kenapa. Lagu apik mereka dan beberapa musisi indie lainnya (Emoni, Pygmy Marmoset, The Kantin, Banda Neira, Dialog Dini Hari) menjadi penabah dan penyambung semangat saya saat jatuh di pertengahan dulu. Skripsi saya termasuk lambat untuk kelasan PTS. Pas 3 semester saya kerjakan, atau saya bayar SKS tepatnya, karena dikerjakannya menurut mood. Kecebur di suara-suara independen ini serasa anugerah. Musik selalu jadi teman saya saat duduk depan laptop. Dan tema yang teman-teman indie usung mampu memberi semangat lebih untuk bertahan sedikit lagi, sedikit lagi, hingga akhirnya Mei lalu…

IMG_2783_
IMG_20140413_215643-2

Perspetif Bodoh II
Kembali ke topik, acara “pesta” ini bertempat di Taman Baca Kesiman, kawasan Jl. Sedap Malam. Tempatnya, jujur, agak susah dicari kalau memang jarang lewat sana. Istilah Balinya “tongosne di bet leke-leke“. Agak tersembunyi dan kalau tidak jeli akan mudah terlewat karena palang namanya agak kecil, tidak begitu menonjol. Tapi untuk atmosfir, masuk jajaran kelas satu untuk saya yang hobi bengong berjam-jam. Asri. Sepi. Bayangkan sahabat sedang baca buku di atas rumput jepang terawat, tidak teduh, tapi sejuk, ada perpustakaan dan kantin kecil, beberapa bangku taman nyeleneh, dan wastafel dari toilet jongkok. Kebayang?

Tiket soldout sudah dari jauh hari. Karena sudah diwanti-wanti sama Bli Man, hari pertama penjualan saya langsung pesan. Teman-teman yang lain yang baru “ngeh” dan pesan di hari ketiga nyesel. Wkwkwk. Tiket konon dibuat terbatas 400 buah, untuk menjaga keintiman. Dan berfungsi sebagai alat bukti bayar DP (voucher) jika ditukar dengan CD album. Aneh memang trio ajaib ini, kalau dipikir sebenarnya konsernya gratis. Lha kita cuman beli album lebih awal sudah bisa langsung nonton eksklusif.

Sampai disana sudah ramai. Saya tepat waktu jam 7 malam. Wajah-wajah yang terlihat ya memang familiar. Itu-itu saja. Hahaha. Ada beberapa musisi lokal dan penggiat seni yang datang. Panggung sederhana, hanya ditambah lighting yang agak mencolok di latar. Malam itu kami duduk lesehan di atas rumput, di udara malam. Untungnya tidak hujan dan angin juga sedang bersahabat. Semesta sepertinya ikut mengamini sukses acara malam itu. Acara diawali oleh Bli Made Mawut (maaf, tidak ada link socmednya), musisi Blues yang sering manggung bareng dengan Nosstress, yang juga tak kalah ajaib.

Lanjut ke yang punya hajatan. Seperti biasa, selain nonton konser kita juga dapat hiburan gratis dari celotehan Bli Man di sela perform. Semua lagu dibawakan bersih, seperti biasa. Ada lagu “Minor Bahagia (Sahabat Samudera)”,  “Tanam Saja” dan “Ini Judulnya Belakangan” yang sudah lebih dulu diperkenalkan. Selain itu ada 7 track baru.Yang paling berkesan adalah “Lagu Semut”. Ada efek live suara kerupuk, tapi yang dibahas di lagu adalah remah roti (ok, gak penting). Lalu ada “Manipulasi Hari”, “Apa Susahnya”, “Pegang Tanganku”, “Semoga Hanya Lupa”, “Lagu Untukmu”, dan “Perspektif Bodoh”. Kebanyakan membahas isu reklamasi yang sedang panas-panasnya dari 2 tahun lalu. Mereka memang termasuk sangat vokal dalam perlawanan. Untuk kualitas, saya sedikit terharu. Sangat lebih baik dari album pertama. Saya bukan ahli musik, jadi mungkin lebih baik jika sahabat beli albumnya dan komentari sendiri. Sedikit kutipan favorit dari “Pegang Tanganku” (spoiler alert) :

.. Indah itu tak selalu ada, senang itu sementara. Jika senang jangan terlalu, jika sedih jangan terlalu …

Like I said, dalem…

Khusus untuk “Tanam Saja”, saya dapat info dari teman umur lagunya (dipopulerkan) hampir sama dengan Perspektif Bodoh pertama. Tapi entah kenapa tidak masuk album. Memang saya sudah dengar dari awal kepincut dengan tiga orang ini. Tapi entahlah, yang jelas sekarang sudah ada versi apiknya di album kedua.

Penampilan malam itu diakhiri dengan lagu wajib “Bersama Kita”, video perjalanan mereka manggung ke Jerman (iya, Jerman) dan lanjut ke sesi tanda tangan. Ada kesempatan foto hanya dengan Bli Man, sayangnya (sebenernya ngincer Bli Kupit) XD . Tak apa, malam itu sendiri sudah menjadi anugerah (setelah sakit hati beberapa waktu lalu, ingin ikut Emoni launching album tapi kepentok parum di banjar) (lah jadi curhat) (oke, cukup).

IMG_98480120900178_1

Tanda tangan kumplit

Tanda tangan kumplit

Akan selalu menyenangkan menikmati saat bengong tiap kali nonton kalian di atas panggung.
Terimakasih Nosstress.

Dan sebagai penutup cerita kali ini, saya embed 1 lagu dari album baru dan juga album dari Made Mawut. Saya doakan semoga kepincut juga 🙂

Foto diambil oleh Bli Ésha Satrya dan Bli Gung WS(foto pertama), diambil dari Instagram dan Halaman Facebook Nosstress. Terimakasih sudah diijinkan memakai gambarnya 🙂

Standar
Corat-coret, Renungan

Dan Setelah Dua Tahun…

wassup

 

Pos Terakhir di blog ini 2 tahun lalu. Haha. Kelewatan bener. Saya harus salahkan Facebook, Twitter dan sebangsanya dengan microbloggingnya yang menyesatkan. Posting singkat, instan, tanpa perlu repot pikir ide utama, kalimat penunjang dan tata krama penulisan layaknya disini. Kalau diingat, jaman dulu satu post bisa saya buat 1-2 hari, baca berulang-ulang, perbaiki sana-sini, sampai dirasa ‘layak’ dan tidak bikin muntah, baru akhirnya di-publish. Saya pikir social media modern saat ini juga turut memberi andil menurunnya keinginan baca tulisan panjang akhir-akhir ini. Setidaknya di saya :p Jadi terbiasa buat post dan menjelaskan sisanya di komentar, itupun jika ada yang merespon.

Terlepas dari itu, banyak hal terjadi 2 tahun ini. Saya pikir 2 tahun akan jadi singkat. Salah besar. Baca lebih lanjut

Standar
Corat-coret, Renungan, Uncategorized

Masalahnya ‘Memulai dan bertahan’…

image

Starting Line

Jadi setelah sekian lama blog ini ditelantarkan, setahun lebih sudah, abis sapuin debu, ngusirin tikus, bersihin sarang laba2 dimana2 saya balik lagi. Kangen. Kangen akan perasaan itu, saat menulis, saat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari kepala langsung ke ujung jari, menghujam papan ketik, menikmati sensasi ketikan2 panjang… Menenangkan…

Eniwei, ada satu hal yg menggelitik saya utk bertanya akhir2 ini. Gimana memulai sesuatu bisa menjadi sangat sulit.

Baca lebih lanjut

Standar
Corat-coret, postaweek2011, Renungan

Konsekuensi, dan hidup…

Sewaktu gw akhirnya mutusin utk minjem uang di kantor utk beli laptop, gw sadar klo uang jajan gw bakal berkurang tiap bulannya. Sehari setelah beli laptop (baca:nyicil), gw sadar klo nantinya gw bakal beli mouse, tas, headset dan seabrek brg lain utk ngelengkapinnya. Saat mutusin utk ngambil kuliah sembari kerja, gw juga sadar klo nantinya gw harus bisa ekstra ketat bagi waktu antara kerjaan dan kuliah…

Beberapa hari lalu, sama kyk hari selasa biasanya, gw dateng ke studio, taro tas trus duduk di kursi gw sambil buka Plurk. Semua berjalan seperti biasa, mencoba bunuh waktu membantai keyboard dan mouse. Semua normal, sampe akhirnya jam nunjukin 3.30 sore. Waktunya gw siap2 ke kampus. Abis ijin ama staff yg lain, gw balik ke rumahnya si Bos bwt numpang mandi. Belom sempet ngambil anduk, HP gw bunyi. Gw disuruh balik lagi ke studio. Baca lebih lanjut

Standar